News


JAKARTA—Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia mendesak Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok tegas menindak pungutan uang jaminan peti kemas impor untuk biaya kerusakan yang dipungut pelayaran pengangkut barang ekspor impor di pelabuhan itu.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Widijanto mengatakan uang jaminan peti kemas impor di Tanjung Priok yang dipungut pelayaran asing melalui agennya di Indonesia masih terjadi meskipun sudah tidak lagi mengutip dalam mata uang dolar AS.

“Sebelumnya, dipungut dengan mata uang dolar tetapi kini dipungut dengan mata uang rupiah. Ini sama saja praktek akal-akalan yang dilakukan perusahaan keagenan kapal pengangkut ekspor impor di Priok,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (26/1).

Dia menjelaskan pihaknya telah menerima sejumlah pengaduan perusahaan anggota ALFI DKI Jakarta tentang perusahaan pelayaran nasional maupun pelayaran asing melalui agennya mengenakan uang jaminan peti kemas impor tersebut.

Padahal, lanjutnya, kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok meminta uang jaminan peti kemas itu ditiadakan. “Tetapi ini cuma perintah lisan, semestinya ada aturan yang menguatkan perintah itu oleh OP [Otoritas Pelabuhan],” tuturnya.

Widijanto menegaskan ALFI DKI menerima adanya enam perusahaan pelayaran yang melayani ekspor impor dari Tanjung Priok yang masih mengenakan uang jaminan peti kemas.

Keenamnya adalah Samudera Indonesia, Ocean Global Shipping, Sinokor Merchant Marine, Evergreen, Haspul Internasional Indonesia dan China Shipping Company.

“Uang jaminan peti kemas yang dikenakan bervariasi antara Rp1 juta – Rp1,5 juta per peti kemas ukuran 20 kaki,” ujarnya.

Selama ini, Widijanto mengatakan peti kemas eks-impor dibebankan biaya perbaikan atau reparasi kontainer saat dipulangkan ke depo empty yang dibayarkan pemilik barang melalui perusahaan jasa pengurusan transportasi (JPT) saat hendak menebus delivery order (DO) kepada agen pelayaran.

“Pembayaran klaim kerusakan itu dipotong dari uang jaminan peti kemas tersebut, tetapi kebanyakan kami nombok karena sebagai pengguna peti kemas tidak pernah mengetahui kerusakan terjadi di mana,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Bay M. Hasani menyatakan pihaknya akan memanggil pelayaran dan perwakilan pemilik barang di Pelabuhan Tanjung Priok untuk membahas keluhan uang jaminan peti kemas impor tersebut.

“Ya ini masih jadi pekerjaan rumah, dan saya akan segera tuntaskan. Saya sudah agendakan akan panggil ALFI DKI dan INSA Jaya soal ini,” ujarnya. (Bisnis Indonesia)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //