News


Photo: maritimenews.id

Jakarta-Pelaku usaha logistik di Pelabuhan Tanjung Priok mengeluhkan melambungnya tarif layanan jasa penumpukan atau lift on-lift kontainer di fasilitas depo peti kemas kosong eks impor dan ekspor.

Sekretaris Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Adil Karim mengatakan seluruh fasilitas depo kontainer kosong (empty) sudah berada di luar Pelabuhan Tanjung Priok sehingga luput dari pengawasan instansi terkait seperti Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok.

Dia menjelaskan ALFI DKI Jakarta menerima keluhkan dan perusahaan forwarder dan logistik di Tanjung Priok mengenai mahalnya biaya layanan di depo empety saat hendak mengembalikan kontainer impor maupun menggunakan kontainer untuk kegiatan ekspor.

“Kami banyak menerima keluhan perusahaan anggota ALFI. Karena tarif layanan di depo empty jauha lebih mahal dari tarif di dalam pelabuhan. Ini menyebabkan biaya logistik membengkak,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (19/3).

Menurutnya, tarif lift on-lift (Lo-Lo) di depo (empty) yang ada di luar Tanjung Priok mencapai Rp 300.000-Rp 380.000 untuk peti kemas 40 kaki dikutip Rp 400.000-Rp 450.000.

Padahal, Adil menegaskan tarif Lo-Lo yang berlaku di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai Surat Keputusan (SK) Direksi PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II untuk peti kemas ukuran 20 kaki Rp 187.500 per boks, dan ukuran 40 kaki Rp 281.300 per boks.

Adil menilai Kementerian Perdaganan perlu melakukan pengawasan terhadap operasional depo empty di luar pelabuhan sebab izin operasi depo dikeluarkan oleh instansi tersebut.

Selain itu, Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok perlu menertibkan tarif depo empty tersebut apalagi kegiatan di depo empty juga berkontribusai penuh pada aktivitas logistik ekspor impor.

“Jangan cuma tarif di dalam pelabuhan yang ditertibkan, yang di luar pelabuhan juga harus ditertibkan, sebab tarif depo empty ini sudah liar, “paparnya.

ALFI DKI sudah pernah menyampaikan supaya dilakukan pembahasan tarif kesepakatan terhadap layanan di depo empty itu yang bersifat business to business antara penyedia dan pengguna jasa di pelabuhan.

“Tetapi rupanya para pengelola depo empty di luar pelabuhan Priok itu seperti tidak mau tersentuh dengan aturan yang ada di pelabuhan. Ya seperti ini dampaknya, biaya logistik tidak bisa dikendalikan”, paparnya.

Siap Menegur

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (ASDEKI) Muslan AR menegaskan pihaknya akan menegur jika ada depo empty yang menarik tarif layanan melebihi batas kewajaran.

“Yang berlaku di depo empty untuk tarif Lo-Lo saat ini Rp 225.000 untuk peti kemas 20 kaki,” ujarnya.

Menurutnya, sebelumnya memang sudah ada tarif kesepakatan bersifat business to business tentang pelayana di depo empty yang disepakati asosiasi penyedia dan pengguna jasa di pelabuhan.

“Kesepakatannya memeang sudah kedaluwarsa hampir dua tahun. Sekarang kami sedang persiapkan untuk memperbarui kesepakatan tarif layanan di depo empty itu, “paparnya.

Ketua Forum Pengusaha Jasa Transportasi dan Kepabeanan (PPJK) Pelabuhan Tanjung Priok M. Qadar Zafar menegaskan saat ini memang tarif layanan di depo empty mulai liar. “Kami PJK juga merasa tidak ada kepastian tarif tersebut, padahal kami menalangi dahulu untuk penyelesaian kegiatan ekspor impor, “ujarnya.

Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Bay Mokhamad Hasani mengatakan instansinya meminta pelaku usaha yang keberatan dengan tarif tersebut bisa melapor. “Saya pasti akan ambil tindakan, sebab tidak boleh ada biaya tinggi. Semua biaya jasa kepelabuhanan dan pendukungnya mesti actual cost,” ujarnya.

Sumber: maritimenews.id

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //