News


Sudah jatuh tertimpa tangga. Barangkali pepatah itulah, yang pas disandangkan kepada nelayan Kendal Jawa Tengah. Pasalnya, selain harus menanggung kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kini harga ikan hasil tangkapannya turun.

Seminggu yang Jalu, ikan tongkol tangkapan bisa laku Rp 15.000 per kilogram, kini hanya laku Rp 9.000 per kilogramnya. Pengurus kelompok nelayan Tawang Rowosari Kendal, Sugeng mengatakan, saat ini sedang musim ikan tongkol. Namun setiap hari, harga ikan tersebut terus turun. Penyebabnya belum diketahui. “Harga itu, bisa saja kembali turun, bila ikan tongkol tangkapan nelayan terus bertambah,” . kata Sugeng, pekan lalu.

Menurut dia, meskipun ikan hasil tangkapan cukup banyak, nelayan tidak bisa menikmati hasilnya dengan maksimal. Sebab untuk ongkos melaut, setiap harinya rata-rata nelayan menghabiskan 30-50 liter atau sekitar RP 250.000 untuk kapal kecil. “Padahal, baru kali ini hasil ikan tangkapan nelayan cukup baik. Kemarin-kemarin, kami hampir frustrasi karena laut sepi ikan tangkapan akibat cuaca buruk dan tak menentu,” ujamya.

Nasib nelayan di Tawang Rowosari Kendal tersebut rupanya lebih baik dibandingkan nelayan Bandengan Kendal. Pasalnya, nelayan Bandengan malah tidak bisa melaut karena tidak kuat membeli BBM. “Harga ikan rendah, sementara ikan yang kita tangkap tidak melimpah. Kami harus pandai-pandai memilih hari bila mau melaut. Kalau anginnya kencang, kami tidak berangkat. Sebab BBM mahal,” kata salah satu nelayan Bandengan Kendal, Abdul Rosyid (30).

Dia menjelaskan, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM solar membuat nelayan susah dan putus asa. Pasalnya, tahun ini boleh dibilang merupakan musim paceklik bagi para nelayan di Kendal. Rosyid mengungkapkan, pilihan untuk tidak melalut seiring naiknya harga BBM itu adalah hal yang tepat. Sebab kalau tetap dipaksakan melaut, maka nelayan rata-rata bakal pulang tanpa membawa hasil tangkapan.

“Kami berharap, para nelayan ini tetap mendapatkan subsidi baik dari pemerintah daerah, provinsi maupun pusat sehingga beban kami bisa sedikit ringan. Apalagi kenaikan harga BBM, akan diikuti dengan naiknya harga suku cadang mesin maupun perawatan perahu,” tandasnya.

Sementara itu, seorang nelayan lain, Wili menyebutkan, tingginya gelombang ombak di laut menyulitkan mereka untuk mendeteksi di mana keberadaan ikan. Akibatnya, jumlah ikan yang diperoleh semakin berkurang dari jumlah normalnya. Padahal, BBM yang haru dikeluarkan untuk satu kapal dalam sekali melaut selama 3-4 hari – sekitar 1 ton. Sehingga, biaya yang telah dikeluarkan dengan pendapatan menjadi tidak sebanding.

“Padahal kalau jumlah tangkapan banyak dan harga jual ikan bagus, berapapun kenaikan harga BBM bukan persoalan bagi nelayan,” katanya. (Rakyat Merdeka)

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //