News


PANGKALAN BUN, KOMPAS — Gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan deras yang terjadi di perairan Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yang masuk wilayah Laut Jawa, diperkirakan berlangsung hingga Juni meski tidak setiap hari. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada April 2015.

Kepala Kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pangkalan Bun Lukman Soleh di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Senin (12/1), mengatakan, musim hujan dimulai pada akhir Oktober 2014. Musim kemarau diperkirakan mulai Juni.

Berdasarkan data BMKG Pangkalan Bun, tinggi gelombang di perairan Kotawaringin Barat bisa mencapai 3,5 meter, angin bertiup hingga 35 knot. Awan kumulomnimbus yang bisa menyebabkan hujan dan petir juga sering terjadi.

Cuaca di Kotawaringin Barat sangat mudah berubah karena termasuk jalur migrasi awan. Di Laut Tiongkok Selatan, tekanan udara tinggi. Awan kemudian bergerak menuju udara bertekanan rendah dengan perairan Kotawaringin Barat menjadi jalur yang dilewati. Selanjutnya, awan terakumulasi di sana.

Hal senada dikatakan prakirawan pada Stasiun Meteorologi Tegal, di Kota Tegal, Jawa Tengah, Hendi Andriyanto. Awan yang tebal, katanya, berpotensi menimbulkan angin kencang. Sementara itu, kecepatan angin berkorelasi dengan ombak, yaitu semakin kencang angin, ombak akan semakin besar. ”Di pinggiran (laut bagian pinggir), ketinggian ombak bisa mencapai dua meter,” ujar Hendy.

Cuaca di perairan utara Jayapura, Raja Ampat, dan Biak bisa lebih buruk lagi. Berdasarkan data prakiraan cuaca dari Bidang Pelayanan BMKG Wilayah V Jayapura, cuaca buruk akan melanda perairan tersebut Selasa ini dengan tinggi gelombang hingga 4 meter.

Kemarin, tinggi gelombang laut di perairan tersebut mencapai 3 meter. Kondisi itu menghambat pencarian lima penumpang perahu motor yang hilang di perairan Kabupaten Supiori, Papua, pada Rabu minggu lalu. Dua nelayan Jayapura yang hilang pada minggu lalu juga belum bisa ditemukan.

Nelayan tak melaut

Gelombang tinggi dan angin kencang juga terjadi di laut selatan di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Januari-Februari.

Karena itu, Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo mengimbau aktivitas pelayaran rakyat dan pariwisata di pesisir selatan Jawa mewaspadai kondisi tersebut. ”Kendati sejak awal tahun sempat tidak ada hujan, kondisi cuaca di laut selatan rata-rata bisa dikatakan cukup membahayakan, terutama bagi aktivitas nelayan tradisional,” ujarnya di Cilacap, Jateng.

Ketua Bidang Organisasi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cilacap Indon Tjahjono mengatakan, saat ini, hampir 80 persen dari 33.000 nelayan di Cilacap tidak melaut akibat pengaruh gelombang tinggi.

Gelombang tinggi juga membuat sebagian besar nelayan kecil (dengan perahu di bawah 7 gros ton) di Kota Tegal dan Kabupaten Tegal, Jateng, tidak melaut. Taripin (50), nelayan kecil di Kota Tegal, mengatakan, dari sekitar 50 perahu di wilayah itu, kemarin hanya 3 perahu yang berangkat melaut, termasuk perahunya.

Sementara itu, nelayan di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan sekitarnya kemarin mulai melaut menyusul gelombang laut yang relatif normal. Tinggi gelombang hingga tujuh hari ke depan berkisar 2-2,5 meter dan kecepatan angin 15-45 knot per jam. Namun, sebagian besar nelayan tradisional memilih melaut tak lebih dari 10 mil dari pantai. ( Kompas)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //