News


 KUPANG, KOMPAS — Harga ikan di Kota Kupang dan sekitarnya melonjak tajam dalam satu pekan terakhir. Anak buah kapal, dan sejumlah nelayan lokal, memilih berlibur Natal dan Tahun Baru sehingga stok ikan di pasar ibu kota Nusa Tenggara Timur itu menipis. Pemilik kapal dan pengusaha ikan yang tidak merayakan Natal pun memilih memarkir perahu di pantai.

Kenaikan harga ikan segar bervariasi. Satu kilogram ikan cakalang, misalnya, naik dari Rp 20.000 menjadi Rp 30.000, kembung dari Rp 10.000 menjadi Rp 20.000, kakap Rp 30.000 menjadi Rp 40.000, kerapu Rp 40.000 menjadi Rp 50.000, dan ikan bada yang disebut warga setempat ikan tembang naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 20.000.

Tonce Ola (38), nelayan yang sedang berjaga-jaga di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tenau, 20 kilometer arah timur Kota Kupang, Selasa (30/12), mengatakan, konsumen berdatangan ke TPI Tenau mencari ikan segar berukuran 2-5 kilogram, tetapi tidak menemukan. Hampir semua nelayan dan anak buah kapal sedang berlibur. Mereka tidak melaut.

”Jika semua anak buah kapal dan nelayan berlibur, mereka juga memarkir kapal di pantai,” kata Ola.

Warga asal Flores timur itu mengatakan, konsumen biasanya mencari ikan berukuran 2-5 kg untuk dibakar di bara api pada malam pergantian tahun. Sambil membakar ikan, mereka menunggu detik-detik terakhir pergantian tahun.

Tidak hanya ikan jenis pancing berukuran 2-5 kg yang langka, ikan berukuran lebih kecil yang biasa ditangkap dengan jaring pun sulit diperoleh. Ikan berukuran kecil dan sedang ini biasanya ditangkap nelayan-nelayan berperahu tradisional yang tidak bermesin. Para nelayan tradisional itu hanya mengandalkan angin dan tenaga mereka sendiri untuk mendayung. Namun, kelompok nelayan ini pun sedang berlibur Natal.

Sharing Abdul (48), pemilik dua kapal ikan masing-masing berbobot 30 gros ton (GT) dan 40 GT, mengatakan, kebanyakan pemilik kapal dan pengusaha ikan di Kupang berasal dari Sulawesi. Sebagian di antara mereka memilih libur Tahun Baru di kampung asal dan memarkir perahu di pantai.

Cuaca bagus

Lima hari terakhir ini, kata Sharing, mereka memarkir kapal di pantai untuk mengganti beberapa onderdil mesin kapal yang rusak ringan. ”Saat ini enam anak buah kapal yang tidak merayakan Natal sedang menangkap ikan di perairan selatan Pulau Rote dengan menggunakan dua kapal,” kata Sharing.

Cuaca laut saat ini sebenarnya cukup bagus dan aman, tetapi nelayan sulit mendapatkan ikan yang diharapkan sehingga mereka masih bertahan di sana.

Ny Ratna (32), ibu rumah tangga, mengatakan, anak-anak bosan mengonsumsi daging hewan. Mereka rindu mengonsumsi ikan, tetapi di pasar-pasar sangat sulit ditemukan ikan segar, kecuali ikan kering. Kalaupun ada ikan mentah yang dijajakan di pasar, ikan tersebut tampak tidak segar. (Kompas)

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //