News


Kedelai

Kedelai menjadi isu yang kembali hangat pertengahan Agustus 2013 ini, setelah tempe kerap menghilang di pasaran dalam beberapa kali di periode Agustus sampai pertengahan September. Manajemen distribusi menjadi hal penting yang disoroti dari kinerja Pemerintah pusat terkait ketersediaan kedelai di pasaran, utamanya ketika fakta menunjukkan produksi kedelai dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Dari sinilah berkembang kecurigaan penguasaan kedelai oleh para importir besar, sampai dugaan kartel yang diduga diketahui pemerintah sejak lama. Berbagai kebijakan pemerintah tentang impor kedelai pun kembali ramai disoroti, salah satunya karena tudingan memberikan peluang para importir mengendalikan harga pasar dengan menahan pasokan.

Grafik Kebutuhan Kedelai vs Produksi Dalam Negeri

Pertumbuhan produksi kedelai di Indonesia dalam catatan Kementerian Pertanian pada periode tahun 2000 sampai 2009, menyebutkan tahun 2000 sebagai jumlah tertinggi produksi kedelai, yaitu 1.017.634 ton. Titik terendah produksi kedelai nasional ada pada tahun 2007 yaitu 592.534 ton. Sementara titik tertinggi kedua berada pada tahun 2001, 2005 dan 2009 yaitu dengan jumlah produksi pada kisaran 800 sampai 850 ribu ton kedelai.

Target produksi kedelai yang cenderung semakin menurun  pada tahun-tahun berikutnya, diduga karena banyaknya petani yang mulai beralih ke komoditas lain. Bertanam kedelai dianggap semakin tidak menguntungkan. Karena itu pula, luas lahan kedelai semakin menyusut setiap tahun. Sebagai ilustrasi, luas lahan pada tahun 2010 versi BPS yaitu sekitar 660.823 hektar dan menghasilkan 907.031 ton kedelai. Pada 2012, luas lahan kedelai secara keseluruhan di Indonesia hanya tinggal 566.693 hektar. Produksi kedelai pun ikut merosot menjadi hanya 779.741 ton. Padahal, pada tahun 2012, kebutuhan konsumsi kedelai pada masyarakat Indonesia telah mencapai 2,1 Juta Ton.

Ketidakseimbangan yang semakin tajam antara produksi dengan konsumsi kedelai sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun 2000. Menurut  data Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2004 tentang neraca produksi, konsumsi dan perdagangan kedelai di Indonesia tahun 1990 – 2004, dimana defisit produksi kedelai per tahun rata-rata mencapai 1,3 Juta Ton. Defisit tertinggi pada periode itu ada di tahun 2003, yaitu ketika Indonesia hanya berhasil memproduksi 672.000 ton kedelai, sementara kebutuhan konsumsinya mencapai 2,016 Juta Ton. Pemerintah terlihat kesulitan menggenjot produksi kedelai daerah, seiring semakin berkurangnya lahan yang disebabkan alih fungsi tanaman lain. Data BPS tahun 2009 – 2012 bahkan menyebut hanya dua provinsi di Indonesia yang memiliki produksi kedelai diatas 100.000 ton per tahun, yaitu Jawa Timur (maksimal 360.000 ton) dan Jawa Tengah (maksimal 180.000 ton).

Mengimpor Lagi dan Mengimpor Terus

Mengimpor tampaknya menjadi solusi tercepat yang bisa dilakukan pemerintah. Sejak 1998, Indonesia mulai melakukan impor kedelai karena berbagai instrument, diantaranya IMF, globalisasi dan perdagangan bebas. Bermunculanlah perusahaan importir kedelai yang kemudian bekerjasama dengan pemerintah untuk memenuhi kuota konsumsi dalam negeri. Sampai saat ini, impor kedelai terbesar Indonesia berasal dari Amerika Serikat dengan jumlah 1.847.900 ton pada tahun 2011. Kemudian, impor dari Malaysia 120.074 ton, Argentina 73.037 ton, Uruguay 16.825 ton, dan Brasil 13.550 ton. Anomali cuaca di Amerika Serikat dan Amerika Selatan menyebabkan pasokan kedelai pun turun dan harganya melonjak. Harga kedelai internasional pada minggu ke-3 Juli 2012 mencapai 622 dolar AS per ton atau Rp 8.345 per kilogram (kg) untuk harga impor di dalam negeri.

Sementara itu, setidaknya ada 21 perusahaan yang kini memiliki izin impor kedelai dari Kementerian Perdagangan RI. Tetapi dari 21 perusahaan tersebut, muncul beberapa nama importir yang dominan karena besaran kuota kedelai yang mereka kuasai. Mereka yang kerap disebut sebagai ‘pemain lama’ tersebut, dalam catatan KONTAN sampai tahun 2012 adalah PT Cargill Indonesia, PT Gerbang Cahaya Utama, PT Sekawan Makmur Bersama, PT Teluk Intan, PT Sungai Budi dan PT Gunung Sewu. Dari keenam pemain ini, PT Gerbang Cahaya Utama (GCU) yang nyaris selalu memperoleh jatah impor kedelai paling besar dibandingkan yang lain. Pada tahun 2008,misalnya, GCU mengimpor 47% dari total impor 1.173.970 ton. Sementara, PT Cargill Indonesia mengambil porsi 28% dari total impor tersebut. Kondisi ini memunculkan dugaan kuat bahwa kedelai di Indonesia dikuasai kartel tertentu, yang sangat mempengaruhi harga jual kedelai di pasaran, sampai kebijakan kedelai yang dikeluarkan pemerintah.

Uniknya, tahun 2013 muncul nama PT FKS Multi Agro sebagai pengimpor terbesar, yaitu 46,47% dari total impor 1,6 juta ton kedelai. Nama FKS Multi Agro sebelumnya hanya dikenal melakukan bisnis di bidang pakan ternak. Pertanyaan tentang kemunculannya yang dominan secara tiba-tiba, memunculkan berbagai dugaan. Pertama, merupakan pemain yang sama dengan dua perusahaan berbeda demi memperbesar kuota impor. Hal ini didasarkan pada fakta awal  ada dua nama importir berbeda tapi memiliki alamat yang sama satu sama lain. Dugaan kedua, beredarnya nama seorang mantan pejabat yang kini masuk dalam perusahaan importir pemenang tender. Nama tersebut juga dikenal luas di kalangan asosiasi kedelai nasional.

Related Links :

http://www.tribunnews.com/bisnis/2013/08/28/impor-kedelai-masih-banyak-dikuasai-pemain-lama

http://economy.okezone.com/read/2012/07/31/320/671013/redirect

http://www.gatra.com/fokus-berita/39207-menghadang-kartel-kedelai.html

http://www.tempo.co/read/news/2013/09/16/090513596/Dapat-Ijin-Impor-Koperasi-Tempe-Mau-Belajar-Dulu

 

Video :

http://www.youtube.com/watch?v=MyTR9CdA8NY

 

Attachment :

Grafik Produksi dan Impor Kedelai Dalam Negeri

Produksi dan Impor Kedelai Dalam Negeri

 

 

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //