News


| | |

Maritime

Sebagai negara maritim, Indonesia justru belum berorientasi pada mengotimalkan sektor kelautan. Selain masih sedikitnya pelabuhan yang layak disinggahi secara ekonomi, pekerja di sektor kelautan pun masih belum memadai.

Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, hanya 2,265 juta masyarakat Indonesia yang bekerja di laut. Padahal secara umum hingga Febuary 2014, kesempatan kerja di berbagai sektor tampak naik. Hal ini mengacu pada data Badan Pusat Statistik yang menyebut dalam setahun terakhir ada peningkatan jumlah pekerja di sejumlah sektor. Pertambahan tenaga kerja di sektor jasa kemasyarakatan tertinggi yaitu 3,59% atau sekitar 640 ribu orang. Disusul Sektor Perdagangan (1,77% atau sekitar 450 ribu orang), sektor industri (2,60% atau sekitar 390 ribu orang) dan pertanian (0,68%) .

Belum diketahui secara pasti penyebab keengganan angkatan kerja muda bekerja di sektor kelautan. Namun di sisi lain, minimnya sumber daya lokal yang terampil di sektor kelautan dipandang sebagai faktor utama mengapa Indonesia lamban mengoptimalkan sektor kelautan. Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Kewirausahaan Kementerian Koordinator Perekonomian, Edy Putra Irawady, mengatakan bahwa sampai saat ini Indonesia masih harus mengimpor tenaga kerja yang beroperasi di pelabuhan. Ia memberi contoh, dalam mencari tenaga penarik kapal, Indonesia masih menggaji tenaga asing. Alasan utamanya karena tenaga asing itu sudah bersertifikat.

“Gajinya USD 1.600 atau sekitar Rp18 Juta hanya untuk menarik tali kapal ke pelabuhan,” kata Edy. Minimnya jumlah pelabuhan yang layak singgah secara ekonomi pun juga cukup ironis. Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau, namun hanya 104 palebuhan yang layak singgah. Minimnya infrastruktur masih menjadi isu utama di sektor kelautan, termasuk infrastruktur penghubung antar pulau dan kawasan pesisir. (Lbk/diolah dari berbagai sumber)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //