News


Sino Iron

Jakarta – Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menekankan pentingnya reindustrialisasi di Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkesinambungan. Ke depan, reindustrialisasi dapat bertumpu pada sektor manufaktur yang berbasis pada sumber daya alam.

Menkeu menguraikan, jika pada era tahun 1990-an Indonesia berjaya dengan industri padat karya karena upah tenaga kerjanya yang murah, maka saat ini sudah saatnya menggeser pandangan tersebut. Hal ini dikarenakan, sudah banyak negara tetangga yang menawarkan upah tenaga kerja lebih murah dari Indonesia.

“(Industri) labor intensive (padat karya) sudah tidak mungkin. Masih berprospek, tapi tidak bisa jadi andalan utama,” jelas Menkeu dalam Seminar Ekonomi Makro 2015 di Kantor Pusat PT Astra Internasional, Jakarta, pekan lalu.

Sebagai gantinya, sektor manufaktur yang berbasis sumber daya alam diprediksi mampu menjadi kekuatan baru industri Indonesia. Terlebih, Indonesia diuntungkan karena memiliki sumber daya alam melimpah, baik di sektor perkebunan maupun pertambangan.

“Saya melihat yang akan menjadi andalan utama adalah manufaktur yang berbasis sumber daya alam, jadi manufaktur yang mengolah sumber daya alam yang kita punya; batu bara, sawit, karet, cokelat, misalkan, atau singkong, termasuk hasil tambang,” katanya.

Menkeu mencontohkan, alih-alih mengekspor nikel, akan jauh lebih baik bila Indonesia dapat mengekspor produk turunannya. Selain memberikan nilai tambah, pengolahan nikel menjadi stainless steel, misalnya, dapat memberikan multiplier effect bagi perekonomian, termasuk menyerap tenaga kerja. Di samping itu, harga produk turunan akan relatif lebih stabil jika dibandingkan dengan harga komoditas mentah yang fluktuatif.

“Daripada ekspor bauksit, karena bauksit itu juga pasti harganya akan up and down, (lebih baik ekspor) aluminium (produk turunan bauksit), (karena harganya) relatively steady. Nikel juga sama, Indonesia nikelnya itu salah satu yang terbaik di dunia kualitasnya, dan salah satu produsen yang terbesar, tapi kita nggak punya sama sekali stainless steel, padahal stainless steel basisnya dari nikel,” urai Menkeu.

Sumber: kemenkeu.go.id

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //