News


inflasi

Bank Indonesia (BI) memprediksi tingkat inflasi di bulan Maret akan berkisar antara 0,3 hingga 0,4 persen (month-to-month), lebih tinggi dari prediksi sebelumnya yaitu 0,27 hingga 0,3 persen.

Wakil Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan dampak kenaikan bahan bakar kali ini memicu tekanan inflasi di bulan Meret meskipun hanya berlangsung selama 4 hari.

“Bahan bakar berkontribusi sebesar 4 persen terhadap tingkat inflasi. Harga bahan bakar telah naik sebesar IDR 500 (USD 38 sen) atau sekitar 7 hingga 8 persen. Sehingga, kenaikan harga bahan bakar berkontribusi sebesar 0,04 persen terhadap inflasi. Namun, dampaknya baru terasa pada bulan April, kan?” katanya seperti yang dikutip oleh Antara, Jakarta, Senin (30/3).

Wakil gubernur BI tersebut juga menjelaskan harga bahan bakar naik akibat dua faktor yaitu penurunan nilai tukar rupiah dan fluktuasi harga minyak dunia.

“Kenaikan harga bahan bakar bergantung pada perkembangan harga minyak dunia yang diawasi setiap dua minggu,” Perry said.

Deflasi pada bulan Januari dan Februari lalu terjadi akibat pengaruh harga minyak dunia yang relatif rendah. Sementara itu, kenaikan harga bahan bakar kali ini disebabkan oleh kerusuhan di Timur Tengah.

Perry mengatakan bank sentral belum mampu memprediksi fluktuasi harga minyak di masa datang. Namun, katanya, kondisi eksternal masih akan terus mempengaruhi harga minyak dunia.

“Semuanya tergantung pada harga minyak dunia. Kami masih belum tahu. Harganya bisa turun atau naik. Saat ini, harga minyak dunia masih tinggi karena kerusuhan di Timur Tengah sehingga harga bahan bakar domestik juga meningkat,” kata Perry.

Namun, menurut wakil gubernur BI tersebut, mekanisme penentuan harga bahan bakar saat ini sudah lebih baik daripada yang lalu karena hanya berdampak kecil terhadap inflasi.

Sumber: thejakartapost.com

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //