News


JAKARTA, KOMPAS — Program pemerintah membangun Indonesia menjadi negara maritim yang kuat kembali mendapat perhatian negara sahabat. Hal itu terlihat dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Menlu Tiongkok Wang Yi ke Indonesia. Steinmeier dan Wang bertemu Presiden Joko Widodo dan Menlu RI Retno LP Marsudi di Jakarta, Senin (3/11).

Dalam pertemuan dengan Retno, Wang mengatakan, rencana RI membangun kemaritiman sejalan dengan kebijakan Tiongkok membangun Jalan Sutra Maritim Abad Ke-21.

”Indonesia adalah negara terbesar di kawasan tenggara Tiongkok. Kami sangat mendukung ide Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia negara maritim yang kuat,” ujar Wang.

Wang menyampaikan keinginan Tiongkok turut membangun ekonomi maritim Indonesia. Hal itu termasuk usulan sembilan pokok kerja sama prioritas selain infrastruktur, zona industri, energi, dan sumber daya alam.

”Kami memiliki keunggulan teknologi dan dana untuk pembangunan infrastruktur, seperti jembatan, pelabuhan, pembangkit listrik tenaga uap, batubara, dan jalan tol,” katanya.

Retno mengatakan, tercapai kesepakatan untuk saling memperkuat hubungan ekonomi dan perdagangan. ”Sebagai salah satu mitra utama perdagangan Indonesia, saya meminta mereka membuka akses lebih besar bagi produk asal Indonesia,” katanya.

Presiden Jokowi dipastikan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Beijing, Tiongkok, 10-11 November, yang diikuti KTT ASEAN di Naypyidaw, Myanmar, 12-13 November. Namun, Jokowi belum dipastikan berangkat ke KTT G-20 di Brisbane, Australia, 15-16 November.

Dalam pertemuan dengan Steinmeier, Retno membahas penguatan kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan. Kedua menlu menegaskan kembali Deklarasi Jakarta yang disepakati Kanselir Jerman Angela Merkel dengan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Juli 2012. Deklarasi itu, antara lain, berisi komitmen kedua negara untuk meningkatkan kerja sama perdagangan, investasi, pertahanan, kesehatan, dan pendidikan.

Menurut Retno, dalam pertemuan itu juga dibahas pengembangan kerja sama bidang kelautan. Kedua negara sepakat pula memelihara hubungan dengan membuka komunikasi langsung antara kedua menlu.

Saat bertemu Presiden, Steinmeier menyatakan dukungan Pemerintah Jerman berupa keahlian di bidang teknologi. Retno menambahkan, Presiden berharap Jerman menjadi pasar dari sejumlah barang produksi Indonesia. ”Kita minta Jerman membuka akses lebih besar untuk produk ekspor Indonesia, termasuk komoditasnya,” ujar Retno.

Indonesia juga meminta Jerman memberikan bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik dan paspor dinas untuk mempermudah tugas para diplomat terkait kunjungan dinas.

Saat menerima Wang Yi, Presiden juga menyinggung Indonesia sebagai poros maritim yang dicanangkan saat kampanye. ”Indonesia sebagai poros maritim dunia diminta dihubungkan dengan Jalan Sutra Maritim Abad Ke-21 ini. Asal kepentingan nasional kita bisa terjaga dan keuntungan untuk rakyat dan negara juga ada, saya kira kita terbuka (untuk dihubungkan),” kata Jokowi kepada pers.

Secara terpisah, saat bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Asian Peace and Reconciliation Council Surakiart Sathirathai menyatakan, dibahas isu ketegangan di Laut Tiongkok Selatan. ”Hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan kerja sama ekonomi dan pembagian keuntungan sumber daya alam,” ujar Kalla. (Kompas)

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //