News


BANDUNG—Pemerintah pusat diminta tetap memberikan peluang pelabuhan di Cilamaya, Karawang untuk dibangun seiring dengan keputusan evaluasi secara menyeluruh terhadap proyek pelabuhan itu.

Gubernur Provinsi Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan pihaknya masih berharap pemerintah pusat merealisasikan pembangunan pelabuhan Cilamaya karena fungsinya yang bisa mendongkrak perekonomian Jabar.

“Memang Cilamaya masih dikaji, saya tidak mau mendahului pemerintah pusat, tapi tetap harapannya Cilamaya harus jadi,” katanya, Senin (2/2).

Menurutnya, kajian pelabuhan Cilamaya baru akan dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam waktu dekat. Informasi yang diperoleh, pemerintah pusat ingin menggeser lokasi pelabuhan terkait dengan permasalahan adanya pipa gas offshore di lokasi sebelumnya.

Gubernur menyatakan akan tetap memberikan dukungan jika pelabuhan Cilamaya digeser dari posisi yang ada sekarang.

Namun, dia berharap pergeseran pelabuhan hanya berjarak sekitar dua kilometer atau masih berada di wilayah Karawang. “Digeser jangan jauh-jauh, tetap di kawasan Jabar,” imbuhnya.

Heryawan menunjuk pergeseran lokasi bisa berada di kawasan Karawang atau ke arah perbatasan dengan Subang. Apapun hasil evaluasi Bappenas terhadap proyek itu, dia berharap pemerintah tetap mewujudkan pembangunan pelabuhan besar di Jabar.

Dia juga menyayangkan evaluasi proyek pelabuhan Cilamaya dilakukan menyusul berdekatan dengan produksi Blok Offshore North West Java (ONWJ) milik Pertamina muncul belakangan.

Gubernur heran dengan evaluasi itu, terlebih proyek itu sempat dikaji dan tidak ada permasalahan terkait dengan pipa gas.

“Saya bertanya kenapa sekarang hal itu baru muncul, padahal diperencanaan dulu itu tidak muncul,” paparnya.

Namun, dia yakin pemerintah pu sat bisa memberikan jalan keluar karena ada sejumlah opsi. Apalagi, paparnya, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II/IPC yang akan menghidupkan lagi kanal Cikarang-Bekasi-Laut. “Kita serahkan sepenuhnya ke pemerintah pusat tetapi sebagai masyarakat Jabar, saya masih tetap Ci lamaya jadi dibangun,” tegasnya.

KADIN KECEWA

Sementara itu, Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Soetisno menyatakan pengusaha di Jabar sangat kecewa jika Cilamaya dibatalkan oleh pemerintah pusat.

Menurutnya, keberadaan Cilamaya sudah sangat vital karena mengakses Tanjung Priok Jakarta dari kawasan industri di Jabar membutuhkan waktu cukup lama.

“Kalaupun tidak di Cilamaya, keinginan kami, realisasikan pembangunan pelabuhan di wilayah Jabar lainnya,” katanya.

Bagi Provinsi Jabar, dia menilai kehadiran pelabuhan merupakan unsur penting karena wilayah itu menjadi pusat industri nasional.

Selain itu, dunia industri tatar Parahyangan juga terus mengalami tren perkembangan positif.

Bila Jabar memiliki pelabuhan, Agung berpendapat hal itu dapat menimbulkan efisiensi, utamanya, bagi para pelaku bisnis berorientasi ekspor. Efisiensinya, lanjutnya, dapat mencapai 30% lebih irit daripada ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

Selama ini, pelaku usaha ekspor Jabar melalui Pelabuhan Tanjung Priok memiliki beberapa kendala. Selain efisiensi waktu pengiriman, juga dalam hal biaya.

“Misalnya, jika terjadi force major, tentunya ekspor tertunda. Pengusaha berpotensi terkena penalti oleh buyers dan harus menambah biaya penyimpanan di pelabuhan,” paparnya.

Sebelumnya, Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo mengatakan pemerintah pusat masih mengkaji rencana pembangunan pelabuhan Cilamaya. “Pelabuhan Cilamaya sedang diproses. Itu masih dikaji, Menteri Perhubungan sudah bergerak ke sana, ini belum bisa putuskan, nanti kita lihat,” katanya Bisnis Indonesia

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //