News


JAKARTA, KOMPAS — Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti akan menelusuri atau mencari pemilik perusahaan dari kapal pengangkut ikan ilegal MV Hai Fa. Kapal ikan ilegal yang telah disita negara dapat ditenggelamkan atau dimanfaatkan untuk kepentingan negara. Keputusan itu sangat bergantung pada Presiden Joko Widodo.

Hal itu dikemukakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Jakarta, Selasa (13/1), menanggapi penangkapan terhadap kapal besar pengangkut ikan ilegal MV Hai Fa berukuran 4.306 gros ton (GT) berbendera Panama dengan 23 anak buah kapal (ABK) asal Tiongkok.

”Saya pasti kejar pemilik perusahaan PMA itu karena sudah jelas. Kapal (MV Hai Fa) ini katanya disewa, tetapi sewanya dari mana. Harus kita telusuri,” kata Susi seusai pertemuan koordinasi dengan Nakhoda dan Perwira Kapal Pengawas Perikanan.

Kapal MV Hai Fa tiba dan sandar di Pelabuhan Umum Wanam, Kabupaten Merauke, Papua, Sabtu, 27 Desember 2014 pukul 12.00 WIT. Kapal pengangkut itu ditengarai membawa ikan dan udang sebanyak 900.702 kilogram (kg) dari Avona menuju Wanam, Kabupaten Merauke, tanpa dilengkapi surat laik operasi (SLO) kapal perikanan dan tidak mengaktifkan transmiter sistem pemantauan kapal perikanan selama pelayaran.

MV Hai Fa dimiliki agen PT Anthartica Segara Lines. Kapal itu mengangkut ikan sebanyak 800.658 kg dan udang beku 100.044 kg. Kapal itu dibawa ke Lantamal IX Ambon, 1 Januari 2015. Saat ini, kapal itu sedang disidik penyidik pegawai negeri sipil Perikanan Satuan Kerja Pengawasan Sumber Daya Kelautan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta aparat TNI Angkatan Laut dari Lantamal IX Ambon.

Susi menjelaskan, setiap perusahaan penangkapan ikan bisa memiliki enam-sepuluh kapal pengangkut. Adapun kapal ikan yang berizin milik perusahaan Dwikarya tercatat sebanyak 85 kapal dengan kapal pengangkut antara lain Hai Fa dan Dang Feng Mariner. Namun, kapal Dang Feng Mariner ditemukan sudah tidak ada ikannya karena sudah didaratkan ke gudang pendingin (cold storage) industri pengolahan. Pihaknya akan memeriksa seluruh kapal yang terkait.

Kapal pengangkut ikan MV Hai Fa itu merupakan salah satu kapal terbesar yang pernah ditangkap Pemerintah Indonesia. Dari catatan Kompas, tahun 2007, KKP (dulu Departemen Kelautan dan Perikanan) pernah menangkap kapal Fu Yuan Yu F68 berbobot 1.936 GT di perairan Tual, Maluku. Di lambung Fu Yuan Yu F68 terdapat ikan 1.400 ton. Jika 1 kg ikan senilai 2 dollar AS, Indonesia dirugikan 2,8 juta dollar AS atau Rp 25,2 miliar.

Perintah presiden

Susi menambahkan, kapal MV Hai Fa yang sudah disita negara bisa ditenggelamkan atau dimanfaatkan untuk fasilitas pendingin dari hasil tangkapan nelayan untuk membangun bisnis perikanan di pulau-pulau terpencil. Kapal itu juga dimungkinkan dipakai untuk sarana pelatihan atau pengolahan ikan.

”Kami menunggu perintah Presiden. Terserah Presiden (kapal yang disita) mau ditenggelamkan boleh atau dimanfaatkan untuk negara,” kata Susi.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Manahan Simorangkir mengatakan, TNI AL akan menanti proses hukum terkait MV Hai Fa. ”Kami tunggu proses hukum, tindakan apa yang akan dilakukan terhadap MV Hai Fa,” kata Manahan.

Kapal-kapal besar itu juga dinilai efektif ditenggelamkan karena bisa menjadi rumpon untuk rumah ikan. Rumah ikan dari kapal besar di dasar laut dalam jangka panjang akan mendorong berkumpulnya banyak ikan sehingga nelayan bisa menangkap ikan lebih banyak.

Sebelumnya, Kadispenarmatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman mengatakan, Pangkalan TNI AL Tahuna memusnahkan kapal ikan asing berbendara Filipina KM Gerry 12 di perairan Teluk Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Sabtu (10/1). Pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar dan ditenggelamkan.

KM Gerry 12 merupakan tangkapan KRI Yos Sudarso-353 di perairan Sangihe, awal Desember 2014. KM Gerry 12 dengan ABK 12 orang, di antaranya sembilan orang warga negara Filipina, tidak bisa menunjukkan dokumen kapal dan ABK. (Kompas)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //