News


JAKARTA—Pengkajian ulang rencana pembangunan pelabuhan Cilamaya berpotensi menurunkan kepercayaan investor asing terkait dengan janji pemerintah dalam melengkapi infrastuktur industri.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sanny Iskandar mengatakan pembangunan pelabuhan Cilamaya sudah dinanti dunia usaha yang bermukim di wilayah Bekasi, Karawang, dan sekitarnya.

Menurutnya, mangkraknya proyek infrastruktur ini menjadi bukti pemerintah mudah berjanji, tetapi sulit untuk merealisasikannya. “Pemerintah terus menunda pembangunan pelabuhan ini. Harusnya ketika rencana pembangunan pelabuhan ini disampaikan ke publik, kajian teknisnya sudah ada, tidak seperti sekarang malah mau dikaji ulang lagi,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (22/1).

Dalam pemberitaan Bisnis (21/1), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago mengatakan pihaknya tengah merancang tim untuk mengkaji layak tidaknya proyek pelabuhan Ci lamaya dilanjutkan.

Sanny mengatakan belum direalisasikannya pembangunan pelabuhan Cilamaya malah menghambat hadirnya investasi maupun ekspansi bisnis.

Dia mengungkapkan, pada pemerintahan Susilo Bambang yudhoyono banyak kalangan yang menghadap untuk sekadar menanyakan perihal kejelasan proyek yang memakan biaya Rp34,5 triliun ini.

Sementara itu, Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Imam Haryono mengatakan pembangunan pelabuhan Cilamaya tidak semata-mata melihat keuntungan ekonominya, tetapi juga dampak sosiologis dan lainnya. Menurutnya, hingga saat ini Kemenperin belum mengetahui kelanjutan proyek tersebut.

“Sebenarnya kalau masalah teknologi kita mampu untuk membangunnya, jadi tidak perlu dikhawatirkan. Saat ini masih on going process kita tunggu saja,” tuturnya.

Imam mengakui dengan hadirnya pelabuhan ini, akan banyak membantu pelaku industri dan berdampak baik bagi atmosfer industri di Jawa Barat.

Keuntungan yang didapat tidak hanya untuk dunia usaha tetapi juga untuk pemerintah, seperti mengurangi in line productive cost sebesar 30%, mengurangi kekhawatiran stag nasi atau kongesti sebesar 30%, mengurangi diversifikasi risiko, dan hadirnya pelayanan pelabuhan, baik Tanjung Priok mau pun Cilamaya.

Data Kemenhub menunjukkan, pengembangan Pelabuhan Cilamaya akan terbagi dalam dua tahap, tahap pertama senilai Rp23,9 triliun dengan hadirnya terminal peti kemas sebesar 3,75 juta TEUs, car terminal berkapasitas 1.030 unit. Investasi tahap kedua menelan biaya senilai Rp10,6 tirliun. (Bisnis Indonesia)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //