News


TUAL, KOMPAS – Pembangunan infrastruktur harus diimbangi ketersediaan jaringan komunikasi untuk mempercepat pertumbuhan pusat ekonomi baru di daerah. Pemerintah pusat berkomitmen terus memperkuat konektivitas antarpulau di kawasan Indonesia timur untuk meningkatkan mobilitas orang dan barang demi menggairahkan perekonomian lokal.

Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan hal itu di hadapan masyarakat Kota Tual Kepulauan dan Kabupaten Maluku Tenggara di Tual, Maluku, Selasa (14/ 10). Chairul didmnpingi Menteri Perhubungan ad interim Bambang Susantono dan Gubenur Maluku Said Assegaf meresmikan proyek sarana dan prasarana perhubungan untuk Indonesia timur senilai Rp 1 triliun yang dipusatkan di Kota Tual.

“Pengembangan jalur transportasi udara penting, tetapi jalur laut untuk distribusi barang juga penting untuk mendorong produksi yang menghasilkan uang. Saya mendukung penuh bahwa perlu ada konektivitas laut dikembangkan khusus untuk Maluku yang 90 persen wilayahnya adalah lautan,” katanya.

Maluku memiliki 1.340 pulau dengan 702 pulau (52,8 persen) belum berpenghuni. Keterbatasan sarana pelayaran dan penerbangan ditambah kondisi cuaca di Laut Banda yang menantang membuat konektivitas masyarakat di Maluku relatif butuh pengembangan.

Potensi pariwisata

Alam Maluku sangat indah dengan perairan khas Pasifik berwarna biru lazuardi dengan pantai berpasir putih yang halus. Chairul menilai, Maluku bisa mengembangkan sektor industri pariwisata dengan meniru Maladewa yang mengundang jaringan hotel intemasional membangun resor di pulau-pulau tersebut.

Proyek yang diresmikan Chairul adalah 3 bandara baru, 5 pelabuhan, 7 kapal perintis antarpulau, 2 feri, dan 37 bus yang tersebar di Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, diresmikan pula fasilitas industry pengolahan rumput laut yang mempakan salah satu komoditas utama masyarakat Tual.

Wali Kota Tual Kepulauan Mahmud Muhanmad Tamher dan Wakil Bupati Maluku Tenggara Muhammad Yunus Serang diminta membangun jaringan pita lebar (broadband) untuk memperlancar akses komunikasi berbasis internet hingga ke pelosok desa.

Menurut Chairul, kemajuan teknologi komunikasi harus dioptimalkan untuk meningkatkan akses informasi sehingga rakyat lebih mudah menimba ilmu dan mengetahui perkcmbangan pasar untuk perdagangan mcnggunakan telepon seluler.

Jaringan konektivitas

Sebelumnya, Bambang mengusulkan kepada Menko Perekonomian agar dibangun jaringan konektivitas antar pulau berbasis transportasi laut dan darat yang disebut Trans-Maluku. Konsep ini menggabungkan moda transportasi darat dan laut seperti mobil menumpang feri sebagai “jembatan laut” antarpulau sehingga mobilitas orang dan barang meningkat bersamaan.

Saat ini pemerintah mengembangkan Trans-Jawa Railway, Trans-Sumatera Highway, dan Trans-Sulawesi Highway. Pengembangan Trans-Maluku yang memadukan jalan raya dan feri senilai Rp 6 tliliun sangat prospektif untuk meningkatkcu1 konektivitas orang dan barang.

“Kemenhub membangun fasilitas-fasilitas untuk memperkuat konektivitas. Tujuh kapal perintis di Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat di jalur yang kami sebut Sabuk Nusantara Tengah menjadi bagian dari upaya karni mengencangkan kesatuan dan persatuan sekaligus ekonomi untuk mobilitas yang tinggi,” kata Bambang.

Kapal perintis merupakan sarana transpotasi andalan masyarakat Maluku dan Maluku utara untuk bepergian antarpulau. Ongkos yang murah dibandingkan kapal komersial membuat rakyat yang ingin menjual hasil panen dan ternak setia menanti kapal perintis Sabuk Nusantara. (Kompas)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //