News


TEGAL, KOMPAS — Antrean kapal nelayan berbobot di bawah 30 gros ton di Kota Tegal, Jawa Tengah, mulai berkurang. Pasalnya, pasokan solar bersubsidi untuk nelayan bertambah setelah Pertamina mengembalikan kuota solar bersubsidi bagi kapal berbobot di bawah 30 gros ton yang sejak Agustus lalu dikurangi hingga 20 persen.

Akibat pengurangan kuota itu, sejak Agustus lalu, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Karya Mina di kompleks Pelabuhan Tegal Sari, Kota Tegal, hanya mendapatkan kuota 1.160 kiloliter per bulan. Pengelola SPBN Karya Mina, Rasidi, Rabu (26/11), mengatakan, sejak 20 November lalu kuota solar bersubsidi itu dikembalikan menjadi 1.488 kiloliter per bulan.

Saat kuota solar bersubsidi itu dikurangi, antrean kapal bisa dua bulan. ”(Kini) lumayan, antrean kapal sudah mulai berkurang,” kata Ketua Paguyuban Nelayan Kota Tegal Eko Susanto.

Sebenarnya, menurut Rasidi, kebutuhan riil solar bersubsidi untuk kapal nelayan di bawah 30 gros ton di Kota Tegal sebanyak 1.800 kiloliter per bulan.

Di Kota Padang, Sumatera Barat, pembelian solar oleh nelayan menurun sejak harga BBM naik pada 18 November lalu. Di SPBU 14.252.521 di kawasan Ranah, Padang Timur, misalnya, penurunan sampai 70 persen.

Pengawas SPBU itu, Evi Nurafizah, mengatakan, biasanya setiap hari ada 30 perwakilan nelayan yang datang membeli solar. Kini, hanya empat-lima nelayan.

Mafuda Indra (40), nelayan di kawasan Muara Padang, mengatakan, biasanya dirinya membeli 400-500 liter solar, tetapi kini hanya 250 liter. Akibatnya, lama melaut pun berkurang dari biasanya 6 hari menjadi 4 hari.

Di Surabaya, kemarin, Kepolisian Daerah Jawa Timur mengungkap penyelewengan 14.000 solar bersubsidi oleh AR, pengawas SPBU di Jalan Ngambak Wlingi, Blitar, dan P, perantara penjualan. Kepala Bidang Humas Polda Jatim Komisaris Besar Awi Setiyono mengatakan, AR dan P ditangkap pada Minggu (23/11). (Kompas)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //