News


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Lembaga Jasa Keuangan (LJK) serius mengembangkan sektor maritim. Salah satunya dengan meluncurkan layanan keuangan mikro yang akan mempermudah menggerakkan sektor tersebut yang selama ini dianggap bankable.

Menteri  Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo mengatakan, pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di sektor kemaritiman khususnya nelayan masih jauh dari akses keuangan. Alhasil, pengembangan produk hasil laut masih terbatas.

“Di Indramayu, produksi ikannya mencapai 50-70 ton per hari. Hasil pelelangannya bisa mencapai Rp I miliar. Nah, kan sayang kalau transaksi maupun dana mereka tidak diolah baik,” ujarnya saat memberikan sambutan pada peluncuran layanan keuangan mikro di Indramayu, kemarin. Dikatakan, keikutsertaan OJK dan lembaga jasa keuangan dalam memajukan sektor kemaritiman bisa mendongkrak perekonomian nasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, memperkenalkan produk-produk perbankan seperti tabungan, kredit dan asuransi kepada 1.200 pelaku UMKM di Indramayu, Jawa Barat ini. dapat membuat financial inclusion meningkat.

Ditekankan, peluncuran layanan mikro ini dilakukan agar masyarakat kelas menengah ke bawah bisa mengakses sektor keuangan lebih mudah. Pelaku UMKM itu diwakili oleh komunitas nelayan, petani, pengrajin hasil laut, pengolah berbasis maritim.

“Ini bentuk konkret dari komitmen OJK dan Industri Jasa Keuangan untuk mendukung program noasional. Khususnya sektor maritim, pertanian, serta pemberdayaan masyarakat kecil dan UMKM,” jelas Muliaman.

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Kusumaningtuti Soetiono menambahkan, kegiatan ini dirancang OJK bersama industry jasa keuangan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat dalam pemanfaatan produk dan jasa keuangan.

“Karangsong merupakan desa yang punya jumlah nelayan terbesar di Pantura Jawa Barat. Diharapkan, acara ini bisa meningkatkan pengenalan dan pemahaman masyarakat mengenai produk dan jasa keuangan serta mendorong masyarakat untuk memanfaatkan produk dan jasa keuangan sesuai kebutuhan mereka.” beber Muliaman.

Untuk diketahui, survei nasional literasi keuangan OJK pada 2013 menunjukkan, hanya 21,84 persen atau seperlima dari penduduk Indoneia yang udah well literate. Sementara 59,74 persen penduduk Indonesia telah menggunakan produk dan jasa keuangan.

“Dari yang sudah well literate, penggunaan produk dan jasa keuangan tertinggi adalah sektor perbankan 57,28 persen . Lalu asuransi 11,81 persen. Lembaga pembiayaan 6,33 per en, pegadaian 5,04 per en. dana pen iun l ,53 persen dan pasar modal 0,11 persen,” kata perempuan yang akrab disapa Titu itu.( Rakyat Merdeka)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //