News


JAKARTA, KOMPAS — Lulusan sekolah menengah kejuruan bidang kelautan dan perikanan di Indonesia diminati perusahaan asing. Para lulusan sekolah menengah kejuruan itu banyak yang bekerja di Jepang, Taiwan, dan Rusia. Di sisi lain, bidang kelautan di dalam negeri kebanyakan digarap oleh nelayan tradisional.

Kepala SMKN 1 Mundu Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Wawan Siswandi, pekan lalu, mengatakan, permintaan tenaga kerja di bidang kelautan dan perikanan sebenarnya tinggi, terutama untuk kebutuhan luar negeri. Dukungan pengembangan sekolah menengah kejuruan (SMK) bidang kelautan dan perikanan oleh pemerintah diyakini meningkatkan nilai tawar dan daya saing lulusan SMK kelautan dan perikanan Indonesia secara internasional, termasuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja andal untuk dalam negeri.

Pandangan serupa diungkapkan Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Jember, Jawa Timur, Kuncoro Diyaudin. Di tengah segala keterbatasan alat, sarana, dan ketersediaan guru ahli, lulusan SMK kelautan dan perikanan Indonesia masih mampu bersaing.

”Sebenarnya, dari segi kualitas, mutu lulusan SMK kelautan di Indonesia tidak perlu diragukan,” ujarnya. Mayoritas lulusan SMK kelautan itu memilih bekerja di Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Rusia. Sebagai gambaran, sebelum lulus, murid bisa magang 3-6 bulan di kapal asing. Di tempat itu, mereka mendapatkan gaji mencapai Rp 9 juta. Jumlah pendapatan itu jauh lebih tinggi dari gaji pelaut di kapal-kapal Indonesia.

Perusahaan asing agresif

Perusahaan asing juga agresif ”menjemput bola”. ”Setiap Januari, perusahaan asing mendatangi SMK kelautan untuk merekrut awak baru. Di satu sisi, hal ini positif karena siswa bersaing untuk mendapat nilai sebaik mungkin.

”Namun, Indonesia mengalami brain drain karena anak-anak kita berkarya di negeri orang. Sementara kelautan di dalam negeri masih dijalani oleh nelayan tradisional yang tekniknya tidak efisien ataupun ramah lingkungan,” papar Kuncoro.

Penjaminan mutu pendidikan serta kepastian setelah lulus dari SMK kelautan dapat memberi penghasilan memadai akan meningkatkan minat generasi muda. Mereka akan lebih tertarik mempelajari kelautan dan mengembangkan potensi dalam negeri.

Ijazah melaut rumit

Di sisi lain, alumni jurusan pelayaran niaga masih menjalani proses berbelit untuk mendapatkan ijazah melaut. ”Di jurusan pelayaran niaga, banyak ujian dan persyaratan harus dipenuhi guna mendapatkan izin melaut,” kata Kepala SMKN 2 Subang, Jawa Barat, Ajim.

Alumni SMK jurusan pelayaran niaga juga harus mengambil ijazah Ahli Nautika Tingkat IV untuk bekerja di bagian geladak dan Ahli Teknika Tingkat IV untuk bekerja di permesinan agar bisa bekerja di pelayaran. Birokrasi berbelit-belit memperlama proses ijazah keluar menjadi 1,5 hingga dua tahun.

Pengurusan ijazah pun tidak hanya di kantor Direktur Jenderal Perhubungan Laut di Jakarta Pusat, tetapi juga ke Badan Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran di Tangerang, lalu kembali ke Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Jalan Merdeka, Jakarta Pusat.

”Selain melelahkan, pengurusan ijazah menghabiskan waktu dan biaya. Murid terpaksa kerja serabutan, menjadi buruh pabrik sampai berjualan, sambil menunggu ijazah keluar,” kata Ajim yang berharap pengurusan ijazah bisa lebih cepat. (Kompas)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //