News


Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kembali menyita kapal asing yang beroperasi di perairan Indonesia. Kapal tersebut berbendera Panama dan tinggal menunggu waktu untuk dikaramkan

MENTERI susi kembali beberkan keberhasilannya menangkap kapal berbendera Panama yang diduga melakukan transshipment tanpa disertai surat izin beroperasi di perairan Indonesia. Kapal tersebut ditahan saat saat merapat di Pelabuhan Wanam, Kabupaten Merauke, Papua. Kapal tersebut bemama MV-HAI FA dengan bobot 4.306 gross tonnage.

“Dengan bobot itu saya kira bisa buat fasilitas cold storage hasil tangkapan nelayan,” kata Menteri Susi di Jakarta, kemarin.

Susi sendiri berharap kapal tersebut disita untuk dimanfaatkan nelayan membangun bisnis perikanan terutama di pulau pulau terpencil. Hanya saja, bisa tidaknya dimanfaatkan untuk fasilitas pendinginan ikan nelayan sepenuhnya tergantung kebijakan Presiden Joko Widodo.

“Kalau Pak Jokowi suruh tenggelamkan, ditenggelamkan. Kalau disita untuk-negara, kami manfaatkan,” kata Susi.

Dalam kesempatan ini, Menteri Susi juga curhat dirinya kerap diteror bahkan sampai diancam akan disantet oleh nelayan gara-gara kebijakannya melarang penangkapan kepiting telur. Susi bisa memaklumi teror tersebut karena kebijakan tersebut membuat pendapatan para nelayan menjadi berkurang mengingat harga jual kepiting telur lebih tinggi dibanding dengan kepiting biasa.

“Ada yang caci-maki, mau disantet segala. Saya terima SMS dari orang Kalimantan mau santet saya, bahkan katanya tujuh turunan karena larang kepiting bertelur diekspor. (Kan) Saya baru punya satu cucu, baru dua turunan,” kata Menteri Susi.

Larangannya itu, dijelaskan Mentei Susi bukan kebijakan serampangan. Kalau kepiting lagi bertelur terus-terusan ditangkap, dieskpor, tentu bakal punah karena tak berkembang biak.

“Anda selamatkan 5.000 ekor dari l kepiting yang sedang bertelur. Perbedaan harganya memang l 00 persen. Harga kepiting tidak bertelur Rp 50.000, bertelur Rp 100.000. Tapi akibatnya? Tidak lestari,” ujar dia.

Untuk itu, Susi mengingatkan kepada para nelayan tetap memegang budaya kearifan loka1. Bagi Susi, masih banyak sektor-sektor lain yang bisa mendatangkan pemasukan bagi nelayan, salah satunya bisa bersumber dari pariwisata.

“Saya ingin pejabat di daerah menyiapkan film. Contohnya kebijakan perlindungan 70 persen coral barrier (terumbu karang) di Australia menghasilkan industry penyelaman US$ 7 miliar pertahun,” ujarnya.

Nah untuk itu, Susi siap membuat terobosan-terobosan untuk meningkatkan income para nelayan. Lewat tambahan anggaran sebesar Rp 3,8 triliun, Susi akan fokus sejahterakan nelayan termasuk memberi reward kepada jajarannya yang telah berhasil melakukan pemberantasan illegal fishing.

“Untuk program nelayan tangkap. Tambahan anggaran Rp 3,8 triliun akan diperuntukkan menyejahterakan petani garam, pembudidaya rumput laut dan nelayan wisata bahari,” kata Menteri Susi. ( Rakyat Merdeka)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //