News


JAYAPURA, KOMPAS — Aparat Kepolisian Daerah Papua menetapkan Nguyeng Trong Nhan (24), nakhoda kapal Thank Cong dari Vietnam, sebagai tersangka dalam kasus pencurian ikan di perairan Kabupaten Raja Ampat pada 19 Januari lalu. Nguyeng bersama 11 anak buah kapalnya telah mengambil 45 ekor penyu, ratusan sirip ikan hiu seberat 2.100 kilogram, lima ikan pari, dan ekor ikan pari seberat 586 kilogram.

”Mereka menggunakan jaring trol atau pukat harimau dalam melakukan aksinya. Nguyeng terbukti melanggar Pasal 93 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan dengan ancaman enam tahun penjara,” kata Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Patrige Renwarin di Jayapura, Kamis (22/1).

Patrige mengatakan, Nguyeng menjadi tersangka tunggal dalam kasus ini karena dia nakhoda yang mengoperasikan kapal untuk menangkap ikan di perairan Indonesia tanpa izin. ”Sebelas awak kapal itu sama sekali tak tahu telah berada di wilayah perairan Indonesia. Karena itu, mereka hanya berstatus sebagai saksi dalam kasus ini. Seusai pemeriksaan, kami akan memulangkan mereka ke negaranya,” ujarnya.

Kapal berbobot 55 gros ton itu belum ditenggelamkan. Polda Papua menunggu proses pengajuan kasus itu hingga ke pengadilan. ”Apabila dalam persidangan majelis hakim tidak membutuhkan seluruh bukti fisik, kami akan langsung menenggelamkan kapal itu,” ujar Patrige.

Ketua Bidang Advokasi Kontak Tani Nelayan Provinsi Papua Iriansyah saat dihubungi Kompas, mengatakan, pemerintah daerah dan aparat kepolisian seharusnya langsung memusnahkan kapal asing yang mencuri ikan di wilayah perairan Papua.

”Nelayan di Papua telah dirugikan dengan aksi pencurian yang dilakukan kapal asing selama ini. Namun, dalam kasus kapal Vietnam, saya melihat kebijakan yang dikeluarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti masih sebatas retorika,” kata Iriansyah.

Minim fasilitas

Patrige mengatakan, terdapat sejumlah wilayah perairan di Papua yang mencari incaran kapal nelayan asing, yakni Raja Ampat, Arafura, Biak, dan Kaimana. Namun, pihaknya belum mampu berpatroli ke seluruh wilayah itu karena fasilitas minim.

”Kemampuan daya jelajah seluruh kapal yang dimiliki Direktorat Pol Air Polda Papua hanya di bawah 12 mil. Padahal, wilayah perairan Papua sangat luas. Kami mengharapkan adanya bantuan fasilitas dari pusat,” ujarnya.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua Agustinus Agung Prihantoro juga mengatakan, pihaknya tak mampu mencegah pencurian ikan karena belum memiliki kapal patroli.

”Beberapa tahun lalu kami memiliki satu kapal patroli yang beroperasi di Kabupaten Merauke. Kapal yang berkemampuan hingga 30 gros ton itu berhasil menangkap banyak kapal asing yang mengambil ikan di Arafura. Namun secara mendadak, kapal itu dikembalikan lagi ke Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2012,” ujarnya. (Kompas)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //