News


JEMBER, KOMPAS — Hampir sebulan ini kebanyakan nelayan di Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur, menghentikan kegiatan menangkap ikan di laut selatan. Selain datangnya musim barat sehingga angin kencang melanda lautan selatan, penghentian melaut itu juga karena ikan mulai berkurang.

Nelayan tidak berani menangkap ikan. Akibatnya, buruh nelayan dan anak buah kapal (ABK) kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. ”Untuk itu, kami mengajukan permohonan kepada Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar mendapat bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Muhammad Edi Susanto, nelayan di Puger Wetan, Rabu (14/1).

Menurut dia, bantuan kepada nelayan dalam bentuk bahan pokok sekadar untuk menyambung kebutuhan selama angin kencang. ”Jika mungkin nelayan diberi pekerjaan dalam bentuk padat karya, seperti perbaikan jalan,” katanya.

Camat Puger Sutrisno mengakui, sejak beberapa pekan lalu nelayan tidak berani melaut karena angin, ombak, dan gelombang pasang. Sejumlah nelayan datang ke kantor kecamatan dan mengajukan bantuan untuk 350 orang nelayan ke dinas sosial.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Machmut Rizal mengatakan, telah menerima tembusan surat permintaan bantuan dari nelayan.

Dari Kota Tegal, Jawa Tengah, dilaporkan, cuaca buruk di Laut Jawa berdampak terhadap lesunya industri pengolahan ikan asin. Pemilik usaha pengeringan ikan asin kesulitan mendapat bahan baku. Harga ikan yang digunakan sebagai bahan baku ikan asin juga melonjak. Akibatnya, sebagian pemilik usaha pengeringan ikan asin berhenti berproduksi untuk sementara.

Ketua Kelompok Ikan Asin Cahaya Semesta Kota Tegal Gunaryo, Rabu, mengatakan, pasokan ikan berkurang karena kapal yang berlabuh dan melelang ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) sedikit. Biasanya dalam kondisi normal, jumlah kapal yang lelang di TPI sekitar 25 kapal per hari. Saat ini hanya sekitar lima kapal yang melelang ikan setiap hari.

Kondisi itu, lanjutnya, mengakibatkan sebagian pemilik usaha ikan asin tidak mendapatkan bahan baku. Akibatnya, mereka terpaksa menutup usaha sementara. Dari sekitar 87 anggota Kelompok Cahaya Semesta, saat ini hanya sekitar 30 orang yang masih rutin berproduksi.

Penangkapan kapal

Dari Bitung, Sulawesi Utara, dilaporkan, Direktur PT Bintang Mandiri Bersaudara Eddy Julianto mempertanyakan penangkapan tiga kapal angkut miliknya oleh Pengawas Perikanan Bitung. Penangkapan terjadi saat kapal melakukan bongkar muat di Dermaga Aertembaga, Jumat lalu.

Eddy Julianto di Bitung, Selasa, mengatakan, penangkapan tiga kapal miliknya terasa janggal karena dilakukan saat kapal sandar di dermaga.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Bitung Iten Kojongian, mengatakan, Peraturan Menteri kelautan dan Perikanan Nomor 57 Tahun 2014 telah menyengsarakan nelayan, anak buah kapal, dan karyawan pabrik ikan di Bitung. Usaha perikanan di Bitung terpukul dengan peraturan itu.

Ia menyebutkan, saat ini sekitar 4.000 ABK dirumahkan. Sejumlah pabrik ikan telah juga memutuskan hubungan kerja dengan ribuan karyawan. Pabrik ikan dan unit pengolahan tidak lagi memiliki stok bahan baku.

Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang mengatakan telah melaporkan masalah perikanan Bitung kepada Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti. (Kompas)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //