News


BELITUNG, KOMPAS — Nelayan tradisional di Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara, menangkap satu kapal asing asal Malaysia berukuran 70 gros ton di perairan wilayah pengelolaan perikanan RI di Selat Malaka. Saat ditangkap, kapal yang terindikasi ilegal itu sedang menangkap ikan.

Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Tanjung Balai Dahli Sirait, Selasa (30/12), mengatakan, kapal asing itu ditangkap nelayan kapal Nelayan Jaya berukuran 7 gros ton, Senin pukul 13.00.

Kapal asing tersebut memiliki empat anak buah kapal (ABK) asal Myanmar. Kapal yang menggunakan alat tangkap berbahaya jenis pukat harimau itu diamankan nelayan. Selanjutnya, kapal dibawa ke dermaga TNI AL di Tanjung Balai.

Zulkifli Nasution, nakhoda kapal Nelayan Jaya mengatakan, ia mencurigai kapal asing tersebut karena ciri fisik kapalnya berbeda dengan kapal lokal. Ciri fisik itu, misalnya, bentuk lambung kapal yang berbeda.

Kapal Nelayan Jaya menangkap kapal asing itu dengan cara mendekati kapal tersebut. Alasannya meminta ikan.

Namun, saat memastikan kapal ikan asing itu hanya memiliki ABK empat orang, Zulkifli lantas mengerahkan seluruh ABK Nelayan Jaya yang berjumlah enam orang untuk naik dan mengepung awak kapal asing tersebut.

Alat komunikasi kapal asing tersebut juga dirusak. Tujuannya agar ABK kapal asing yang sedang menangkap ikan itu
tidak melapor kepada pemilik kapal.

”Kami mengancam semua ABK kapal asing itu dengan senjata kayu. Namun, hampir tidak ada perlawanan dari mereka. Lalu, kami giring kapalnya ke pangkalan TNI,” tutur Zulkifli kepada Kompas.

Masih marak

Di wilayah Selat Malaka, aksi pencurian ikan masih marak berlangsung. Bahkan, pencurian ikan itu cenderung dilakukan secara terang-terangan. Zulkifli berharap penjahat perikanan dijerat hukuman seberat-beratnya. Selain itu, kapal ilegal juga ditenggelamkan sesuai aturan pemerintah.

Dahli menambahkan, penangkapan kapal asing oleh nelayan merupakan yang pertama kali terjadi. Penangkapan itu dimungkinkan karena aksi pencurian tertangkap tangan.

”Nelayan lokal berhasil mengamankan kedaulatan negara,” ujarnya.

Dahli berharap seluruh penyidik perikanan berperan aktif dan berpatroli lebih efektif. Bahkan, jika dimungkinkan, patroli dilakukan dengan menyamar sehingga bisa mengungkap lebih banyak kasus pencurian ikan oleh kapal asing dan pelanggaran oleh kapal dalam negeri.

Dahli juga berharap kasus pidana tersebut tidak hanya menyentuh nakhoda kapal ilegal. ”Akan tetapi, juga terhadap pemilik kapal agar ada efek jera,” ujarnya.

Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan penenggelaman kapal ikan ilegal yang memasuki perairan Indonesia dan mencuri ikan di wilayah Indonesia. Setiap tahun, kerugian akibat pencurian ikan diperkirakan mencapai Rp 300 triliun.

Presiden menyatakan belum puas dengan program pencegahan pencurian ikan di perairan Indonesia. Penindakan terhadap pencuri ikan masih terlalu minim dibandingkan kasus pencurian yang terjadi. Ditengarai, kapal asing yang masuk perairan Indonesia 5.000-7.000 kapal (Kompas, 18/12). (Kompas)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //