News


Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) Richard Joost Lino menyatakan proses pengambilalihan 45% saham milik MTD sudah memasuki tahap final dan dipastikan proses negosiasi akan berakhir pada Desember 2014.

“Sudah tinggal difinalisasi dan shareholder agreement saja. Mengingat sudah tidak ada masalah, saya kira dalam bulan-bulan ini akan beres [penandatanganan],” katanya, Senin (22/12).

Dalam menjalankan akuisisi ini, imbuhnya, Pelindo II telah menugaskan anak usahanya yaitu PT Pengembang Pelabuhan Indonesia (PPI) untuk proses negosiasi hak dan kewajiban masing-masing pihak setelah pengambilalihan terjadi.

Menurutnya, PPI juga sudah membentuk anak usaha yaitu PT Akses Pelabuhan Indonesia (API) yang akan menjadi pemegang saham pada ruas tol ini. “Biaya untuk akuisisi ini diperkirakan Rp800 miliar dan proses konstruksinya ditargetkan sudah bisa dimulai pada Februari tahun depan,” ujarnya.

Dia menegaskan PT Pelindo II berencana untuk menghubungkan jalan tol Cibitung-Cilincing dengan akses jalan menuju kanal di kawasan industri Cikarang ke pelabuhan kecil di Cibitung yang pembangunannya akan dilaksanakan pada tahun depan.

Setelah akuisisi ini tuntas dilakukan, ucapnya, pihaknya juga akan meminta kepada regulator untuk memberikan akses sambungan tol ini hingga ke jaringan Tol Trans-Jawa di Cikampek.

Direktur Utama PT MTD CTP Expressway Yusoff Merican menolak memberikan jawaban ketika dimintai konfirmasi oleh Bisnis mengenai perkembangan proses negosiasi pengambilalihan saham jalan tol Cibitung- Cilincing.

Sebelumnya, Achmad Gani Ghazali, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) menyatakan hingga kini pihaknya sebagai regulator belum menerima usulan perubahan pemegang saham pada ruas tol ini.

Namun, Gani mengingatkan perubahan pemegang saham pada pemegang konsesi harus berdasarkan perizinan dari Menteri PU-Pera.

Jalan tol yang menghubungkan Ci bitung di Bekasi ke Cilincing di Jakarta sepanjang 33,61 km ini berfungsi untuk mempersingkat waktu angkut barang menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

4 TAHAP

Pembangunan jalan tol ini rencananya dilakukan dalam empat tahap, yaitu Seksi I Cibitung-SS Telaga Asih (2,65 km), Seksi II SS Telaga Asih-SS Tembalang (9,72 km).

Adapun, Seksi III meliputi SS Tembalang-SS Tarumajaya (14,29 km), dan Seksi V SS Tarumajaya-Cilincing (7,27 km). MTD CTP Expressway mendapatkan hak pengelolaan jalan tol itu selama 40 tahun.

Penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) ruas jalan tol Cibitung-Cilincing sebenarnya sudah dilakukan pada Januari 2007 tetapi diamandemen pada 2011 karena terkendala masalah pembebasan lahan.

Berdasarkan catatan Bisnis, membengkaknya biaya pengadaan tanah hingga belasan kali lipat membuat pemerintah diminta perlu mengkaji kelanjutan jaringan tol lingkar luar jakarta (JORR) Tahap II ruas Ci bitung-Cilincing.

Ketua Bidang Riset dan Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno baru-baru ini menyatakan pemerintah harus memastikan kelayakan investasi ruas tol. Urgensi sebuah jaringan tol menurutnya jangan sampai menjadi beban APBN.

Berdasarkan data Kementerian PU-Pera, ruas tol ini mengalami pembengkakan biaya tanah dari Rp225 miliar menjadi Rp3,863 triliun. Kenaikan anggaran ini menjadi tanggung jawab negara.

Investor dibebaskan dari kewajiban menyediakan dana untuk tambahan investasi pengadaan tanah. Kenaikan biaya dilakukan melalui kebijakan dana perlindungan investasi (land capping).

Meski demikian, Menteri PU-Pera Basuki Hadimuljono telah menyatakan walau terjadi pembengkakan biaya pembebasan, pihaknya akan meneruskan ruas tol yang akan terhubung dengan Pelabuhan Tanjung Priok ini. “Aturannya ada land capping. Jadi kami ikuti aturan itu dan [Cibitung-Cilincing] akan tetap berlanjut,” jelasnya.

Sampai saat ini, berdasarkan catatan Kementerian PU-Pera, pemerintah telah mencairkan tunggakan risiko penaikan harga tanah (land capping) sebesar Rp360 miliar atau masih tertunggak sekitar Rp654 miliar.

Yusoff Merican sebelumnya menyatakan perusahaannya sudah menyiapkan berkas untuk ditagihkan kepada pemerintah. Tercatat hingga Agus tus perusahaan asal Malaysia ini mengklaim telah mengucurkan Rp100 miliar dari kas perusahaan.

Akbar Djohan, Ketua Komisi Tetap Logistik Bidang Regulasi dan SDM Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga menyatakan kebutuhan tol baru sangat diperlukan.

Infrastruktur modern yang sedang dibangun di Tan jung Priok, tuturnya, tidak akan berfungsi maksimal jika akhirnya terus terjebak dalam kemacetan.

Menurutnya, jika semakin lama akses Cibitung-Cilincing ini dibangun, biaya yang harus ditanggung semua pemangku kepentingan untuk membangun ruas tol menuju pelabuhan juga semakin besar. (Bisnis Indonesia)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //