News


JAKARTA—PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dikabarkan akan menawarkan obligasi valas senilai US$2 miliar – US$2,5 miliar untuk membiayai pembangunan pelabuhan baru di sejumlah kawasan di Tanah Air.

Menurut dua sumber Bisnis yang mengetahui rencana penerbitan obligasi valas tersebut, Pelindo akan menunjuk tiga bank asing dan dua perusahaan sekuritas lokal untuk menjadi penjamin emisi obligasi valas itu. “Yang asing itu salah satunya bank asal Jepang. Kalau yang lokal itu Danareksa Sekuritas dan Bahana Securities,” ujar salah satu sumber itu kepada Bisnis, Rabu (10/12).

Sementara itu, sumber lain menyebutkan Deustche Bank merupakan salah satu calon kuat untuk menjadi penjamin emisi surat utang berdenominasi dolar AS tersebut. Dia menambahkan total volume penerbitan obligasi valas tersebut juga belum final. “Tenornya diusulkan di atas 5 tahun. Dalam waktu dekat ini akan diputuskan nilai penerbitan dan para penjamin emisi obligasi valas itu,” kata sumber itu.

Hingga tadi malam, Sekretaris Perusahaan Pelindo II Rima Novianti belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait rencana emisi obligasi valas itu. “Masih rapat, nanti saya hubungi lagi,” ujarnya melalui pesan singkat, Rabu (10/12).

Sebelumnya, Direktur Utama Pelindo II Richard Joost Lino mengatakan akan menerbitkan obligasi valas senilai US$1 miliar. Aksi korporasi itu merupakan bagian dari rencana pencarian pinjaman senilai US$5 miliar – US$6 miliar untuk merealisasikan program tol laut yang dicanangkan pemerintah. “Tahun depan (waktu penerbitan obligasi), sekitar bulan April,” ungkapnya belum lama ini.

Dana hasil penerbitan global bond itu dipakai untuk mendanai pembangunan tiga pelabuhan, masing-masing di Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Sorong, Papua Barat. Dia menjelaskan Investasi pembangunan pelabuhan di Sorong diperkirakan mencapai Rp 2 triliun, sedangkan di Kalimantan Barat mencapai Rp3 triliun.

Dini Agmivia, analis PT Trimegah Securities Tbk., memperkirakan permintaan investor asing terhadap obligasi valas korporasi Indonesia, khususnya BUMN, masih tinggi. Tren suku bunga rendah di kawasan Eropa, lanjutnya, akan memberikan pengaruh positif pada emisi obligasi valas itu. “Kalau dari sisi situasi ekonomi global, cukup baik untuk emisi global bond. Namun, risiko nilai tukar perlu diperhatikan karena volatilitas rupiah saat ini sedang tinggi,” ungkapnya.

Pada awal Oktober lalu, Pelindo II juga telah mencairkan pinjaman valas senilai US$1 miliar atau setara dengan Rp12 triliun. Pinjaman tersebut disepakati dengan greenshoe option untuk jangka lima tahun ke depan. Suku bunga yang ditetapkan rata-rata mencapai 2,45% dengan LIBOR+220 basis poin.

Fasilitas kredit itu berasal dari tujuh bank asing a.l. Deutsche Bank, Australia and New Zealand Bank (ANZ), Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ (BTMU), Sumitomo Mitsui Bank ing Corporation (SMBC), Mizuho Bank, Sociate Generale Bank, dan United Overseas Bank (UOB).

Dana pinjaman tersebut akan digunakan untuk pembangunan proyek terminal Kalibaru Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dengan nilai investasi mencapai US$2,5 miliar atau setara Rp30,5 triliun. (Bisnis Indonesia)

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //