News


JAKARTA—PT Pelabuhan Indonesia IV berencana mengalokasikan dana dari penanaman modal negara senilai Rp2 triliun untuk merevitalisasi sembilan pelabuhan di wilayah timur Indonesia.

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Mulyono mengatakan aliran penanaman modal negara (PMN) itu penting untuk menggerakkan perekonomian di kawasan timur Indonesia.

“Kita mengajukan itu karena sangat diperlukan,” katanya seusai rapat dengar pendapat dengan Panitia Kerja (Panja) PMN Komisi VI DPR, Senin (26/1).

Dia memaparkan perseroan sudah menjelaskan rencana investasi sembilan pelabuhan yang nantinya dibiayai oleh PMN kepada komite VI DPR.

Kesembilan pelabuhan itu adalah Bitung, Kendari, Tarakan, Ambon, Ternate, Jayapura, Sorong, Manokwari, dan Merauke.

Kesembilan pelabuhan itu, paparnya, menjadi fokus pengembangan Pelindo IV guna mendukung konektivitas angkutan laut.

Namun, Mulyono menegaskan revitalisasi Bitung dianggap paling siap dari rencana pengembangan sembilan pelabuhan itu.

“Bitung sudang membangun untuk tahap awal dan akan selesai 2018,” tuturnya.

Terkait dengan penetapan sebagai pelabuhan pengumpul (Hud) internasional, dia menjelaskan Bitung kini sudah melayani angkutan pelayaran secara rutin dari Bitung ke Tanjung Pelepas, Malaysia dengan operator Maersk Line.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Bobby R. Mamahit menyatakan pembangunan Pelabuhan Bitung sudah pasti karena hinterland Bitung sudah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Itu masih dalam studi. Namun, sudah pasti karena Bitung sudah ditetapkan sebagai KEK,” katanya.

Sebelumnya, PT Pelindo IV berencana memperpanjang dermaga Terminal Peti Kemas Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), sekitar 130 meter menjadi 460 meter dari panjang saat ini 330 meter.

Rencana perpanjangan dermaga itu dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pertama sepanjang 65 meter dan tahap kedua sepanjang 65 tahun ini.

Namun, pembangunan tahap kedua masih terkendala akibat kebijakan pemerintahan baru.

General Manager Terminal Peti Kemas Bitung Kalbar Yanto membenarkan hal tersebut. Menurutnya, kendala terjadi ketika biaya pengembangan infrastruktur Pelabuhan Bitung tidak lagi melalui APBN.

Bila PMN terealisasi, Kalbar berharap Terminal Peti Kemas Bitung dapat segera mengembangkan lapangan penumpukan sebagai prioritas utama. Terkait hal tersebut, dia sudah menyampaikan kepada manajemen Pelindo IV sebelum rapat PMN dengan Komisi VI DPR.

OBLIGASI

Direktur Keuangan Pelindo IV Budi Revianto menyatakan pihaknya tengah menyiapkan penerbitan obligasi senilai Rp5 triliun untuk memenuhi kebutuhan pendanaan proyek revitalisasi pelabuhan.

Persiapan penerbitan obligasi itu sudah dilakukan sejak tahun lalu yang dimulai dengan pemeringkatan perusahaan oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). “Pemeringkatan dulu. Itu stimulus untuk calon investor,” katanya.

Pada tahun lalu, Pefindo menetapkan peringkat idAA bagi Pelindo IV dengan prospek stabil yang berlaku sejak 28 April 2014 hingga 1 April tahun ini.

Peringkat itu dianggap mencerminkan dukungan pemerintah terhadap kepentingan perusahaan karena kepentingan strategis dari pelabuhan, tingkat leverage keuangan yang konservatif dan proteksi arus kuat yang kuat dan marjin profitabilitas yang stabil.

Namun, peringkat tersebut dibatasi oleh skala ekonomi dari area pelayanan perusahaan yang lebih kecil dibandingkan dengan operator pelabuhan pemerintah lainnya dan karakteristik industri pelabuhan yang sangat tergantung pada kondisi perekonomian dan peraturan pemerintah.

Budi mengatakan dana dari penerbitan obligasi itu bakal digunakan untuk revitalisasi pelabuhan yang bakal menjadi hub. Perusahaan akan fokus pada revitalisasi Sorong (Papua Barat), Makassar (Sulawesi Selatan) dan Bitung (Sulawesi Utara). (Bisnis Indonesia)

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //