News


devisa

Jakarta – Seperti halnya mata uang negara-negara lain di dunia, saat ini rupiah juga sedang mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menanggapi hal tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, agar tidak berdampak lebih luas terhadap aspek perekonomian nasional.

“Pemerintah dan Bank Indonesia tidak pernah berdiam diri untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah, seperti yang dihadapi juga oleh mata uang negara lainnya terhadap dolar AS,” kata Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro saat membacakan jawaban pemerintah atas pemandangan umun fraksi-fraksi DPR RI terhadap RUU tentang APBN 2016 beserta nota keuangannya di RR Paripurna DPR, Selasa (25/08).

Menkeu menambahkan, gejala penguatan mata uang dolar AS sebenarnya sudah terlihat sejak 1-2 tahun yang lalu. Hal ini terjadi sebagai akibat rencana langkah lanjutan normalisasi kebijakan moneter di AS. “Yang kemudian diperparah pada beberapa waktu terakhir dengan kebijakan devaluasi Yuan Tiongkok,” tambahnya.

Terkait asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2016, pemerintah memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah akan mencapai Rp13.400 per dolar AS. Perkiraan ini telah mempertimbangkan kondisi aktual yang terjadi di pasar mata uang nasional dan global saat ini.

“Selain kondisi aktual tersebut, penetapan asumsi nilai tukar rupiah di tahun 2016 juga akan memperhitingkan langkah-langkah antisipatif dan perbaikan yang telah dan akan dilakukan oleh BI dan pemerintah, untuk memperkuat fundamental pasar uang nasional,” jelasnya.

Sumber: kemenkeu.go.id

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //