News


58giant-sea-wall130123b

Mega proyek Giant Sea Wall (Tanggul Laut Raksasa) atau dikenal juga sebagai proyek Great Garuda, yang sempat tertunda pembangunannya kemungkinan besar bakal dilanjutkan tahun ini. Dua investor dari Belanda dan Korea Selatan disebut-sebut akan mendanai proyek infrastruktur tersebut.

“Duta besar Belanda sudah ketemu Pak Menteri (Menteri PU dan Perumahan Rakyat-red), investor dari Korea Selatan juga katanya sudah bertemu dengan Presiden. Jadi, proyek ini (Giant Sea Wall) kemungkinan bakal dilanjutkan,” kata Direktur Jenderal Sumberdaya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi di Jakarta, pekan lalu.

Mudjiadi mengungkapkan, saat ini pemerintah sedang mengkaji ulang keberlangsungan proyek tersebut. Meski demikian, pihaknya berkeyakinan proyek raksasa ini akan dilanjutkan pembangunannya.

Sumber di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) menyebutkan bahwa pihak Belanda sudah menyiapkan dana 3 juta Euro, sedangkan pihak Korea Selatan menyiapkan dana 10 juta Dolar AS, untuk mendanani proyek Giant Sea Wall.

Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa Great garuda merupakan bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD)/Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN). Dalam dokumen NCICD pembangunan tanggul raksasa di utara Jakarta dibuat dalam 3 tahap.

Pertama atau tahap A,‎ penguatan dan peninggian dinding laut berupa penguatan garis pantai Jakarta sudah dimulai pada tahun 2014. Rencananya dilakukan hingga 2018 atau 4 tahun ke depan. Pada fase ini mencakup penguatan tanggul dan pemasangan stasiun pompa. Total investasinya mencapai US$ 1,9 miliar.

Pekerjaan Tahap I program NCICD adalah memperkuat tanggul eksisting sepanjang 32 Km garis pantai dan memperkuat tanggul-tanggul sungai yang bermuara di Teluk Jakarta.

Dari 32 Km total garis pantai, 8 Km merupakan tanggung jawab pemerintah dan 24 Km saat ini dikelola oleh swasta. Pekerjaan perkuatan tanggul eksisting yang dikerjakan saat ini merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan keselamatan bagi publik. Dalam hal ini, pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menanggung pembiayaan masing-masing 50%.

Perkuatan tanggul ini perlu dilakukan karena adanya land subsidence (penurunan muka tanah) di Jakarta Utara yang terjadi dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan, yaitu rata-rata 7,5 cm per tahun. Seluruh Jakarta Utara diperkirakan akan berada di bawah permukaan laut pada tahun 2030. Akibatnya, pada waktu tersebut ke 13 sungai yang melewati Jakarta tidak dapat mengalirkan airnya lagi secara gravitasi ke Teluk Jakarta.

Kedua atau tahap B‎, pembangunan tanggul laut luar dan reklamasi laut (pulau buatan) seluas 1.250 hektar hingga 4.000 hektar pada periode 2018-2022. Pada fase ini akan dikembangkan jalan tol dari Tangerang dan Bekasi. Termasuk pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dari pusat kota ke Jakarta.

Pada fase ini juga, selain pembangunan tanggul laut luar, juga ada pembangunan stasiun pompa, pintu air, pemindahan jaringan pipa, restorasi hutan bakau dengan perkiraan biaya US$4,8 miliar.

Ketiga alias tahap C‎, ini merupakan fase pembangunan tanggul luar di sisi timur Jakarta, namun sampai saat ini belum bisa ditentukan apakah tanggul laut di sisi luar bagian timur diperlukan. Alasannya penurunan muka tanah di kawasan timur masih relatif lambat dan sungai-sungai utama masih mengalir bebas.

Sumber: maritimenews.id

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //