News


JAKARTA, KOMPAS — PT PAL sedang membangun dua kapal sebagai bagian dari alat utama sistem persenjataan untuk diekspor ke Kementerian Pertahanan Filipina. Harga dua kapal jenis strategic sealift vessel itu 90 juta dollar AS.

Direktur Utama PT PAL Muhammad Firmansyah Arifin, di Jakarta, Selasa (13/1), mengemukakan, pemotongan pelat pertama kapal perang itu direncanakan pada 22 Januari 2015. Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo dijadwalkan hadir.

PT PAL memenangi tender pembuatan kapal perang Filipina tersebut, mengalahkan enam negara peserta tender lainnya. Dengan asumsi Rp 12.600 per dollar AS, harga kapal perang itu Rp 1,134 triliun.

”Inilah kapal alutsista (alat utama sistem persenjataan) pertama Indonesia yang diekspor. Biasanya kapal kita datangkan. Akan tetapi, ini buatan PAL diekspor ke Kementerian Pertahanan Filipina,” ujarnya.

Kapal perang strategic sealift vessel (SSV) seperti KRI Banda Aceh, tetapi berukuran lebih kecil. Kapal sepanjang 125 meter itu akan difungsikan untuk operasi kemanusiaan, membawa pasukan ke daerah pertempuran, dan perbekalan. Kapal itu juga multifungsi karena bisa mengangkut kapal patroli. Bagian dek kapal bisa mengangkut dua helikopter dan tank.

Kontrak pertama kapal SSV ditargetkan selesai dalam waktu 28 bulan. Adapun kapal kedua dalam waktu 36 bulan.

Di dalam negeri, PT PAL memproduksi tiga kapal perang jenis kapal cepat rudal. PT PAL sedang membangun kapal perusak kapal rudal melalui kerja sama teknologi dengan perusahaan asal Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), dengan target tuntas awal 2017.

Dalam negeri

Secara terpisah, Indroyono Soesilo mengatakan, nantinya pembangunan kapal patroli laut perlu diarahkan untuk dibuat di dalam negeri.

PT PAL dinilai telah memiliki empat kemampuan, yakni membuat kapal perang, membuat kapal niaga, mereparasi dan memelihara kapal, serta membangun anjungan lepas pantai untuk industri hulu migas. Namun, optimalisasi PT PAL dalam membuat kapal niaga belum terlihat.

Dalam waktu dekat, pemerintah akan menggulirkan insentif fiskal untuk industri galangan kapal dalam negeri, antara lain pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Bea Masuk.

”Dengan pemberian insentif, kemampuan divisi niaga PT PAL diharapkan bisa bangkit,” katanya.

Kementerian Koordinator Kemaritiman akan mendapat hibah empat kapal patroli laut dari luar negeri Sebelumnya (Kompas, 7/1), Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq berpendapat, dari kapasitas teknologi dan sumber daya manusia, Indonesia bisa memproduksi alutsista sendiri. (Kompas)

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //