News


| |

Termakan

Sesumbar akan kantongi 27% suara dari Pemilu Legislatif, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akhirnya harus menelan kekecewaan. Di sisi lain, kecemerlangan Gerindra dan PKB menjadi isyarat penting tentang pemahaman basis massa dan kerja mesin politik partai. 

Evaluasi internal tampaknya adalah hal yang kini akan dilakukan partai berlambang banteng itu, menyusul kejutan yang terjadi dalam perhitungan sementara Pemilu Legislatif 9 April 2014 kemarin.  Sampai Kamis (10/4) pukul 11.00 WIB, hasil perolehan suara PDIP masih ada di kisaran 19,00% hingga 19,46 % dari berbagai lembaga yang mengeluarkan hitung cepat (quick count) . Berbeda dengan beberapa hari sebelum Pileg yang tampak percaya diri, kini jajaran struktural PDIP termasuk capresnya, Jokowi, tampak lebih berhati-hati.

“Tentu saja apa yang menjadi hasil quick count dapat menjadi evaluasi dan analisis internal kami karena suara ini tidak mencapai target 27,02 persen,” kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PDI Perjuangan  Puan Maharani di Kebagusan, Jakarta Selatan, Rabu (9/4/2014) malam.

Jokowi, Prabowo atau Rhoma effect ?

Yang kemudian ramai didiskusikan, baik di media mainstream maupun jejaring sosial seperti twitter dan facebook, yaitu kemana ‘Jokowi effect‘ yang sebelumnya gencar didengungkan itu ? . Realitas hasil suara justru menunjukkan ungkapan ‘Jokowi yes, PDIP no’ itulah yang tampaknya menjadi kenyataan. Pada bagian lain, justru kemunculan Gerindra di urutan ketiga perolehan suara, serta melonjaknya suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadi perhatian dan sinyal baru kondisi politik hari ini.

“PDIP bukan saja memerlukan koalisi yang solid dalam Pilpres, tetapi semakin tidak mungkin mengambil pasangan cawapres untuk Jokowi dari internal partai. Dan dari hasil Pileg ini, setidaknya untuk sementara, tampaknya kampanye negatif terhadap Jokowi sebagai capres PDIP cukup efektif untuk mengerem “efek Jokowi” (Jokowi effect),” tulis Muhammad AS Hikam, pengamat politik yang juga mantan Menteri Pertahanan di era Presiden Abdurahman Wahid,  Rabu di laman akun sosial media miliknya.

Sementara, pengamat politik dari Polmark Indonesia, Eep Syaifulah Fatah, malah melihat Jokowi sama sekali tidak mendongkrak suara PDIP. Keunggulan partai yang dikomandoi Megawati ini cenderung karena kompetitornya banyak berbuat salah. Banyak kalangan juga melihat, ‘Prabowo effect’ justru lebih terlihat dari Pileg kemarin, seiring pencapaian partai itu di kisaran 11,9%  hingga 11,46% hingga siang ini. Kemampuan mesin partai dan juga soliditas tampaknya menjadi hal penting pencapaian itu, terutama di tengah maraknya isu negatif yang menerpa Prabowo. Alasan yang sama juga terjadi pada PKB yang pencapaiannya berada di kisaran 9,13% hingga 9,5% , melampaui PKS yang hanya dalam kisaran 6,90% hingga 6,99%. Keberhasilan PKB menggaet Rhoma Irama, juga banyak disebut sebagai salah satu faktor yang ikut menarik suara para pemilih di daerah dan pedesaan.

Jajagi Koalisi

Berbagai kejutan dari perhitungan Rabu kemarin pun dengan segera membuat  topik beralih ke isu koalisi. Dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Pembina partai Demokrat, misalnya, Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan target partainya kini berubah dari capres menjadi cawapres. Hal ini realistis jika melihat pendapatan suaranya yang hanya ada di kisaran 9,43%. Meski belum memastikan, pihaknya merasa cukup mungkin untuk berkoalisi dengan Gerindra. Prabowo sendiri menyatakan terbuka melakukan koalisi dengan PDIP.

Berbagai komposisi capres dan cawapres pun kini juga mulai dibicarakan publik, jelang Pilpres Juli mendatang. PDIP, Golkar dan Gerindra akan menjadi partai yang menentukan arah koalisi. Demokrat pun tampaknya masih punya kekuatan menentukan arah koalisi karena diperkirakan akan membuat partai Islam yang awalnya tergabung dalam Sekretariat Gabungan (Setgab) merapat kembali, kecuali PPP. Tapi satu hal yang dikhawatirkan banyak pihak kini justru langkah PDIP, terutama tentang keluwesannya berkoalisi. Mengingat sempat bermasalah dengan Demokrat dan Gerindra, langkah PDIP berkoalisi dengan salah satunya diprediksi akan berat. Jika dugaan ini benar, maka hanya Golkar partai besar yang paling mungkin berkoalisi dengan PDIP. Tentu saja dengan catatan : Aburizal Bakrie legowo untuk tidak lagi ngotot sebagai capres. Sementara di sisi lain, jika koalisi kompetitor PDIP bisa menghasilkan pasangan capres dan cawapres yang menarik, sangat mungkin mimpi PDIP menjadikan Jokowi sebagai presiden terancam kandas.

Maka, pelajaran hasil pileg ini seharusnya dipahami PDIP : berhentilah sesumbar, maksimalkan mesin politik partai dan luweslah menjalin koalisi. Masyarakat pemilih saat ini memang semakin cerdas, tapi juga akan tetap realistis. Sehingga, memutuskan untuk beralih dukungan pada detik-detik tertentu adalah hal yang selalu bisa terjadi , bukan karena euforia, tapi karena pertimbangan yang realistis. (Lbk)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //