News


JAKARTA, KOMPAS — Pendidikan menengah kejuruan program kelautan dan perikanan mendapat dukungan sejalan dengan keberpihakan pemerintahan Joko Widodo membangun bidang kemaritiman. Dalam lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan pembangunan 135 SMK baru dan penguatan 389 SMK lama dengan anggaran miliaran rupiah.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2014-2019, pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) kelautan dan perikanan secara eksplisit disebutkan untuk dikembangkan. Di daerah-daerah yang potensial, SMK kelautan dan perikanan akan diperbanyak.

Direktur Pembinaan SMK Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan M Mustaghfirin Amin, di Jakarta, Selasa (23/12), mengatakan, saat ini terdata ada 615 SMK kelautan dan perikanan yang mengembangkan delapan program studi. Kedelapan program itu adalah nautika kapal penangkap ikan, teknik kapal penangkap ikan, nautika kapal niaga, teknik kapal niaga, budidaya perikanan, budidaya rumput laut, budidaya kerang-kerangan, dan budidayacrustacea atau kepiting. Jumlah siswanya sebanyak 73.931 orang.

Anggaran miliaran rupiah

Pemerintah menargetkan, dalam lima tahun ke depan, 389 SMK yang ada ditingkatkan mutunya. Untuk itu, pemerintah mengalokasikan dukungan dana sekitar Rp 1,2 miliar untuk setiap SMK. Pada 2015, anggaran dialokasikan untuk 140 SMK terlebih dahulu.

Pendirian SMK baru bidang kelautan dan perikanan juga dipermudah. Bahkan, pemerintah pusat memberikan stimulus sebesar Rp 1,7 miliar untuk membantu pendirian SMK baru oleh pemerintah daerah. Dalam lima tahun ke depan, ditargetkan SMK kelautan dan perikanan bisa mencapai 750 sekolah. Dengan demikian, akan ada tambahan 135 SMK baru.

”Sudah ada pemetaan SMK kelautan dan perikanan di Indonesia. Untuk pendirian akan diutamakan di daerah yang potensial agar mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah,” ujar Mustaghfirin.

Ketua Asosiasi Sekolah Kepetanian, Kehutanan, dan Kelautan Indonesia Priyanto mengatakan, dukungan terhadap SMK kelautan dan perikanan menggembirakan. Selama ini, sektor kemaritiman diabaikan, termasuk keberadaan SMK di bidang tersebut. Namun, dalam pengembangan SMK kelautan dan perikanan, ketersediaan peralatan dan sumber daya guru harus terpenuhi.

SMK Kelautan Sunan Drajad Jurusan Nautika Kapal Niaga di Paciran, Lamongan, Jawa Timur, misalnya, hingga kini belum memiliki laboratorium dan simulator nakhoda kapal.

Kapal ada, tetapi untuk belajar mengemudikan kami belum memiliki simulator. Bantuan untuk SMK masih didominasi pihak swasta,” ujar Kepala Program SMK Kelautan Sunan Drajad Ahmad Hanif Ahsan. (Kompas)

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //