News


JAKARTA, KOMPAS — Rencana Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mencapai swasembada garam tahun 2015 masih terganjal masalah, antara lain ekstensifikasi tambak garam, faktor cuaca, dan tata niaga yang memukul petani garam.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kebutuhan garam nasional mencapai 4,01 juta ton per tahun. Jumlah itu meliputi garam industri 2,05 juta ton dan garam konsumsi 1,96 juta ton. Swasembada garam konsumsi telah dicapai pada 2012. Namun, garam industri sepenuhnya diimpor.

Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil KKP Sudirman Saad, di Jakarta, Rabu (7/1), mengemukakan, target pemerintah untuk mencapai swasembada garam tahun 2015 memerlukan sejumlah terobosan karena terdapat beberapa kendala, seperti perluasan lahan tambak.

Pihaknya telah mengupayakan dukungan perluasan tambak PT Garam seluas 8.000 hektar (ha) di Teluk Kupang dan tambak PT Cheetham Garam Indonesia seluas 1.000 ha. Ekstensifikasi lahan itu diperlukan untuk bisa menambah produksi garam industri sebanyak 960.000 ton. Namun, rencana perluasan lahan itu terhambat karena pembebasan lahan terkendala kepemilikan tanah adat. Kendala lain adalah ketidakpastian cuaca.

Tahun 2015, pemerintah menargetkan produksi garam nasional sebesar 3,7 juta ton, yang bersumber dari program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) dan PT Garam.

Sudirman menambahkan, pihaknya sedang mendorong penerapan teknologi geomembran dan ulir filter untuk Pugar guna mendorong produksi lebih cepat dan berkualitas. Pugar ditargetkan seluas 20.000 ha dengan anggaran Rp 300 miliar atau naik 300 persen dibandingkan tahun 2014 sebanyak Rp 100 miliar. Penerapan teknologi geomembran ditargetkan menaikkan produksi dari 80 ton per ha menjadi 120 ton per ha sehingga total produksi mencapai 2,2 juta ton.

Hambatan lain swasembada garam adalah harga jual. Pemerintah telah menetapkan harga patokan pemerintah garam konsumsi kualitas 1 (dengan kualifikasi setara dengan garam industri) Rp 750 per kilogram (kg) dan kualitas 2 Rp 550 per kg. Namun, harga garam petani selalu anjlok saat panen, yakni Rp 400-Rp 500 per kg. Meski demikian, harga garam industri rata-rata mencapai Rp 1.000 per kg.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pengembangan Usaha KKP Riyanto Basuki mengemukakan, anjloknya harga terutama terjadi ketika panen raya. Masalah harga itu dipicu masa panen garam yang terbatas, yakni 4-5 bulan, untuk memenuhi kebutuhan garam nasional selama satu tahun. ”Untuk mencapai swasembada garam, komponen harga sangat penting,” ujarnya. (Kompas)

 

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //