News


BATAM, KOMPAS — TNI AL memburu sindikat perompak dan pencuri barang di kapal di Selat Malaka. Enam orang ditangkap dalam perburuan di sekitar Kepulauan Riau.

Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat Laksamana Muda Widodo, Sabtu (27/12) malam, di Batam, Kepulauan Riau, menuturkan, enam orang itu ditangkap di Pulau Terung, Batam. Mereka ditangkap secara terpisah sejak Kamis (25/12). ”Tim reaksi cepat menangkap mereka di tempat persembunyian di Pulau Terung,” ujarnya.

Penangkapan mereka dipicu beberapa laporan percobaan perompakan di Selat Malaka. Laporan itu diterima sejumlah perwakilan organisasi kemaritiman di Malaysia dan Singapura, lalu diteruskan kepada TNI AL.

Pelapor antara lain awak MV Madeira pada Minggu (21/12). Awak kapal berbendera Malta
itu melaporkan empat orang tidak dikenal coba merompak mereka. Insiden itu terjadi 5,5 kilometer dari Pulau Karimun Kecil. Para penjahat sudah naik ke geladak, tetapi mereka tidak bisa masuk kabin yang seluruhnya terkunci.

Selain MV Madeira, beberapa laporan percobaan perompakan juga masuk. Seluruh upaya itu gagal dan tidak menimbulkan kerugian material terhadap awak dan pemilik kapal. ”Mereka gagal mengambil apa pun dari kapal- kapal sasaran,” ujar Widodo.

Meskipun demikian, TNI AL tidak meremehkan aksi mereka. Sebab, laporan sudah telanjur dicatat oleh International Maritime Bureau (IMB) di Kuala Lumpur, Malaysia, dan Information Fusion Center (IFC) di Singapura.

”Kalau tak melakukan apa-apa, Indonesia bisa dianggap tidak mampu melindungi perairannya dari kejahatan,” tutur Widodo.

Pengaduan

Komandan Gugus Keamanan Laut Armabar Laksamana Pertama Abdul Rasyid K menuturkan, Armabar sudah melakukan beberapa hal untuk membuktikan keseriusan memberantas kejahatan di laut. Di Batam ditempatkan Pusat Komando dan Pengendalian Angkatan Laut. ”Pusat komando itu menyediakan hotline yang dapat dihubungi untuk melaporkan kejahatan di laut,” ujarnya.

Kapal-kapal di perairan Indonesia wilayah barat diharapkan melaporkan insiden yang dialami kepada pusat komando itu. Laporan ke IMB dan IFC pada akhirnya diteruskan ke TNI AL untuk ditindaklanjuti. ”Langsung saja melapor ke sini,” ujarnya.

TNI AL juga membentuk Satuan Tugas Elang Laut. Fungsi utama satuan itu menindaklanjuti laporan-laporan kejahatan laut di sekitar Selat Malaka. ”Perairan ini sering disebut sebagai salah satu perairan berbahaya di dunia. Banyak laporan kejahatan laut dari perairan ini,” ujarnya.

Widodo menegaskan, tidak tepat jika kejahatan laut di sekitar Kepulauan Riau disebut perompakan dan pembajakan. Tidak pernah ada aksi melibatkan senjata api untuk menguasai kapal dan menyandera awaknya.

”Kejahatan ada, bentuknya pencurian beberapa benda di kapal. Bukan seperti di sekitar Somalia yang sampai menyandera awak kapal dan meminta tebusan,” ujarnya. (Rakyat Merdeka)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //