News


KEPALA Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Marsetio mengatakan untuk menjaga kedaulatan maritim Indonesia yang luas butuh kapal selam. Minimal, kata dia, Indonesia butuh 12 unit kapal selam. “Saat ini, kita baru punya dua kapal selam,” kata Laksamana Marsetio usai acara di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, kemarin.

Laksamana Marsetio mengatakan, pada renstra pertama, TNI AL sudah membeli tiga buah kapal selam. Dua kapal selam dibangun utuh dari Korea Selatan, sedangkan satu akan dirakit di Indonesia oleh PT PAL dan Galangan bekerjasama dengan produsen kapal selam Korea Selatan. “Sehingga diharapkan pada kapal selam keempat, kita sudah bisa membangun kapal selam secara penuh di PT PAL dengan alih teknologi,” kata Laksamana Marsetio.

Dipaparkannya, kapal selam pertama diharapkan selesai pada Apri I 2017 mendatang. Lalu dua kapal selam lagi diharapkan selesai masing-masing 6 bulan setelah yang pertama. Sehingga diharapkan 2018, sudah memiliki sebanyak 5 buah kapal selam.

Sementara pada rencana strategi kedua sudah menganggarkan membangun dua kapal selam lagi. Sehingga pada 2020, Indonesia sudah memiliki 7 kapal selam. “Target kita sampai 2024 kita memiliki 12 kapal selam,” tegasnya.

Dirinya berharap rencana itu bisa terlaksana dengan baik. Kapal selam yang tengah dibangun itu diharapkannya nanti mampu menjaga perairan Indonesia. Kapal selam tersebut akan dipersenjatai rudal yang dapat dengan mudah melumpuhkan target kapal asing yang melanggar kedaulatan wilayah Indonesia.

Marsetio menambahkan armada kapal laut milik TNI AL punya tiga peran utama, yakni peran militer untuk menegakkan kedaulatan Negara dan melakukan latihan militer dengan negara tetangga. Fungsi kedua yakni konstagulari, yakni penegakan hukum di mana TNI AL bersama 13 instansi lainnya, seperti Kepolisian, lmigrasi, Bea Cukai, Kehutanan, dan Kementerian terkait dapat melakukan tindakan hukum sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. Fungsi ketiga yakni Diplomasi, misalnya TNIAL mengirimkan kapal perangnya untuk mengamankan perairan di Lebanon.

Dikatakanya, sinegitas berbagai pihak mewujudkan pembangunan nasional berwawasan maritim untuk menjadikan poros maritim dunia sangat diperlukan.

Ditambahkannya, TNI AL sudah menyiapkan 10 kapal patroli yang nantinya akan dihibahkan untuk Badan Keamanan Laut (Bakamla). “Kita sudah siapkan I 0 kapal patroli kita, yang nanti akan bergabung dengan Bakamla. Jenisnya kapal patroli,” tlimbahnya.

Selain kapal perang, TNT AL memiliki 61 ribu perajurit dan akan ditambah 10 ribu, sehingga nantinya akan berjumlah 71 ribu personel.

Sementara itu, terkait maraknya kapal asing yang masuk wilayah perairan Indonesia, Marsetio menegaskan, tidak semua kapal asing yang masuk ke wilayah RI adalah kapal asing. Ada juga kapal Indonesia. “Contohnya, ada delapan kapal yang kita tangkap. Ada yang bodong, juga ada kapal Indonesia yang area penangkapannya tidak sesuai dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan),” imbuhnya.

TNI AL lanjutnya, akan terus menjalankan instruksi Presiden untuk memberikan efek jera bagi kapal-kapal asing yang masuk ke perairan Indonesia dan melakukan ilegal fishing. “Betul. Kan sudah ketangkep China, Thailand, Vietnam, Aru, Natuna. Kita lihat, radar di KKP sudah mulai sepi (ilegal fishing).

Arahan Presidenkan untuk memberikan efek jera. Sesuai dengan hukum yang berlaku,” paparnya. ( Rakyat Merdeka)

Leave a comment's

Leave a comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

back to top --> //